Beranda > Umum > PLURALISME DAN SPIRITUALISME

PLURALISME DAN SPIRITUALISME

Oleh: M. Dawam Rahardjo

uploaded by: hafis.muaddab@gmail.com

Dari sudut ontologi, ada dua pandangan mengenai pluralisme. Pertama, yang mengatakan bahwa pluralisme adalah suatu paham baru yang lahir dalam masyarakat modern. Hal ini berkaitan dengan dua fenomena. Pertama, kesadaran bahwa pluralitas masyarakat dan budaya adalah suatu gejala yang memang merupakan ciri khas masyarakat modern melalui mobilitas dan konsentrasi demografis, terutama di kota-kota. Dari observasi dewasa ini masih nampak, di Indonesia umpamnaya, adalah masyarakat yang plural di satu pihak, dan masyarakat homogen di lain pihak. Masyarakat di kota Mataram, Lombok umpamanya, adalah sebuah mnasyarakat yang plural, ditandai dengan berdirinya masjid, pura dan geraja di tengah-tengah kota. Namun di situ masih ada tanda-tanda homogenitas masyarakat. Misalnya adanya perkampungan khusus Hindu-Bali, komunitas Muslim dan komunitas Kristen dengan gereja-gerejanya yang indah. Meskipun baru-baru ini telah terjadi tindak pengrusakan dan pembakaran sebuah gereja yang berdiri di tengah-tengah kota dalam serbuan yang dilancarkan kelompok Muslim fundamentalis dan tradisionalis. Di lain pihak belum pernah terjadi bentrokan antara komunitas Muslim dan Hindu-Bali. Mungkin karena komunitas Hindu cukup kuat eksidstensinya, sehingga komunitas Muslim tidak berani ambil risiko untuk bersikap agresif. Namun pluralitas itu hanya terdapat di kota-kota, terutama Mataram. Di daerah pedesaan dan kota-kota kecil, masyarakkat masih bercirikan homogenitas dan eksklusifisme. Di daerah pedasaan masih pula dijumpai daerah-daerah konsentrasi masyarakat Hindu-Bali, misalnya di kota Armada yang dulu merupakan pusat pemerintahan Hindu. Demikian pula di pulau Bali yang dominan Hindu. Di bagian Barat pulau itu terdapat kantong-kantong Muslim. Gejala ini terdapat pula di kota Denpasar yang lebih plural. Gejala yang sama terdapat pula di Indonesia. Karena pengaruh mobilitas kependudukan, proses pluralisasi terjadi dimana-mana. Mula-mula, pluralisasi terjadi karena urbanisasi ke Ibu kota dan diiikuti ke kota-kota besar lainnya, seperti Bandung Semarang, Surabaya, Makasar dan Medan, mengikuti pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja. Juga terjadi di daerah-daerah transmigrasi, walaupun transmigrasi ini masih mengikuti pola pengelompokan menurut daerah atau suku. Tetapi pluralitas ini terjadi juga di kota-kota sekitarnya, karena berpindahnya sebagian penduduk transmigrasi ke kota-kota untuk mencari pekerjaan atau melakukan usaha. Dewasa ini masyarakat plural terus berkembang dan merupakan sebuah keniscayaan dalam masyarakat modern. Sebagai dampak dari masyarakat yang makin plural, timbul ketegangan komunikasi karena budaya yang berbeda-beda. Gejala ini nampak di daerah-daerah yang mengalami konflik kesukuan dan keagamaan. Tetapi timbulnya konflik belum tentu diakibatkan faktor agama, melainkan faktor ekonomi dan politik, yang kemudian menyerat konflik kesukuan dan keagamaanm. Hal ini nampak misalnya dalam konflik di Ambon, antara suku Ambon dan Bugis-Makasar yang kebetulan memang berbeda agama. Demikian pula konflik di Sambas yang melibatkan suku Dayak dan Melayu di satu pihak, dan suku Madura pada lain pihak. Konon, orang Dayak merasa terusik oleh sikap dan perilaku orang Madura dengan budaya caroknya. Tetapi di balik itu nampak latar belakang kepentingan sosial-ekonomi yang cukup kental. Hubungan konflik-ketegangan ini pada gilirannya, menimbulkan dan ditimbulkan oleh dua hal, yaitu eksklusivisme dan sektarianisme. Konflik karena perbedaan suku dan agama memang bisa menimbulkan sikap yang makin eksklusif dalam pengelompokan-pengelompokan, disebabkan keinginan untuk mempertahankan diri dan identitas budaya. Namun disadari pula bahwa sikap ini tidak memecahkan masalah pluralitas, melainkan bisa memperuncing dan mempertajam konflik. Hal ini akan bertentangan dengan kebangsaanyang menghendaki integrasi dan persatuan. Walaupun demikian harus diakui juga berdasarkan pengalaman, bahwa persatuan bisa menghilangkan identitas budaya. Pembinaan kebudayaan misalnya, telah menyebabkan lenyapnya budaya-budaya daerah. Demikian pula pemakaian bahasa nasional Indonesia telah mematikan bahasa daerah. Termasuk bahasa Jawa yang dipakai oleh orang Jawa yang berjumlah amat banyak tersebut. Budaya Jawa yang adiluhung itupun berada dalam proses melenyap. Dengan demikian, paham kebangsaan ini menghadapi dilema. Berhadapan dengan dilema itu maka pluralisme adalah sebuah solusi. Di satu pihak, pluralisme menghendaki integrasi dan persatuan. Tapi di lain pihak, pluralitas juga memelihara dan mempertahankan identitas budaya. Pluralisme merupakan salah satu gejala dari pasca-modernisme yang kembali kepada keragaman. Karena itu, adalah salah paham besar jika pluralisme dianggap sebagai suatu paham yang akan melebur identitas menjadi kesatuan. Pluralisme adalah suatu keharusan bagi masyarakat modern dan kebangsaan. Menurut Dr. Kaustar Azhari Noor, pluralitas ini bukan suatu hal baru dalam Islam. Islam berkembang justru pada masyarakat yang plural, seperti Yastrib yang kemudian menciptakan masyarakat Madinah itu. Selama 10 tahun Islam kurang berkembang dalam masyarakat homogen di Mekah. Terbentuknya masyarakat Madani dimungkinkan oleh pluralisme yang ditempuh oleh Muhammad. Masyarakat Madinah yang modern pada`zamannya itu, adalah sebuah masyarakat yang plural. Pada waktu itu, dalam proses perundingan, umat Islam hanya mewakili 10 persen saja dari seluruh komunitas yang di dominasi oleh kaum Yahudi, Nasrani, penganut agama Pagan dan penganut keyakinan tradisional Hanafiyah. Dalam masyuarakat yang plural itulah, justru Islam memiliki peluang untuk berkembang melalui dakwah dan kepemimpinan Nabi. Selanjutnya peradaban Islam sejak awal juga sudah bersifat plural. Justru peradaban dibentuk oleh pluralitas itu. Melalui interaksi antar budaya, peradaban Islam mengalami proses pengayaan. Filsafat dan ilmu pengetahuan mulai berkembang ketika Islam berjumpa dengan kebudayaan Yunani, Romawi, Persia dan India. Sejala dengan pemikiran itu, maka pluralisme juga bukan merupakan gejala baru di Indonesia. Paham pluralismne itu diekspresikan dalam kata Empu Tantular yang hidup pada abad ke-9 M, “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya kegamanan dan kesatuan yang merupakan ciri budaya Nusantara pada masa imperium kerajaan Singosari. Atas dasar pluralisme itulah, lahir Pancasila yang dirumuskan oleh Bung Karno dan para Pendiri Bangsa. Sesunguhnya Pancasila adalah manifestasi dari kebangsaan dan pluralisme itu sendiri. Menurut Dr. Alwi Shihab dan K.H. Dr. Said `Aqil Siraj, pluralisme adalah suatu sunatullah. Tuhan menciptakan segala sesuatu beraneka ragam. Dalam al Qur’an di katakan bahwa Allah menciptakan flora dan fauna dalam berbagai macam, karena memang iman umat Islam aneka ragam. Demikian pula bahasa dan umat manusia dalamberbagai suku dan bangsa. Agama dan kepercayaan demikian pula, dibiarkan plural. Dikatakan oleh Allah antara lain, bahwa jika Allah menghendaki, maka semua umat manusia itu menganut satu agama saja. Tetapi Allah menciptakan keragaman agama-agama, agar apat menguji siapa yang paling baik amalnya. Karena itu yang diharuskan adalah “berlomba-loma dalam kebajikan” (fastabikhul khairat). Pluralisme pada pokonya ada dua macam. Pertama adalah pluralisme budaya. Kedua adalah pluralisme agama. Pluralisme pertama tidak banyak ditentang. Tetapi pluralisme agama banyak ditentang oleh kalangan umat Islam. Hal ini disebabkan karena kesalah-pahaman persepsi mengenai arti pluralisme. Pertama, pluralisme dianggap sebagai paham yang menganggap semua agama itu sama dan benar, dan karena itu mengarah kepada sinkretisme. Kedua, pluralisme menghilangkan identitas agama-agama, karena mengarah kepada penyatuan agama. Dan ketiga, pluraluisme dianggap sebagai suatu ancaman karena akan melemahkan iman umat Islam. Memang pluralisme berasumsi bahwa semua agama itu sama dan sama benar. Tapi hal ini didasarkan pada sikap dan anggapan baik terhadap semua agama. Konsekuensinya, agama yang baik dan benar itu tidak satu agama atau suatu agama tertentu saja, melainkan semua agama. Sebab jika hanya ada satu saja agama yang baik dan yang benar, maka agama-agama lain dianggap tidak baik dan tidak benar. Kedua, yang mengatakan semua agama itu baik dan benar adalah negara. Karena negara tidak bisa menganggap yang benar dan baik adalah agama tertentu. Untuk bisa adil, negara harus netral agama. Ini tentu saja tidak dengan bertolak pada anggapan bahwa semua agama harus dilebur jadi satu dalam suatu sinkretisme. Melainkan harus membiarkan agama itu beraneka ragam yang hidup dan berkembang secara bebas. Pertanyaan yang sering timbul adalah, mengapa seolah-olah tidak boleh seseorang itu berkeyakinan bahwa agamanyalah yang paling benar, sesuai dengan firman Allah dalam al Qur’an “Bahwasanya agama yang benar di sisi Allah itu adalah Islam” ? Jika orang tidak diperkenankan menganggap agamanyalah yang paling benar, maka hal ini bertentangan dengan prinsip kebebasan beragama. Lagi pula setiap orang itu menjatuhkan pilihannya kepada agama tertentu, berdasarkan keyakinan bahwa agama yang dipilihnya itulah yang paling benar. Hanya saja perlu diingat bahwa pilihan itu adalah pilihan pribadi, bukan pilihan kolektif. Agama Islam dianggap paling benar hanya oleh orang yang percaya saja. Orang yang punya kepercayaan lain, misalnya Kristen atau Konghucu umpamanya, tentu punya pendapat lain. Dengan pilihan yang beragam itu, maka menurut paham kebangsaan, tidak ada agama yang paling benar bagi semua orang. Bagi banyak orang, agama yang benar itu berbeda-beda, sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Dengan perkataan lain, harus diberi kebebasan bagi setiap orang untuk memilih mana agama yang dianggap paling benar. Di situlah Tuhan akan menguji mana yang paling konsekuen. Karena itu, maka Tuhan hanya memerintahkan “Berlomba-lombalah dalam berbuat kebajikan” (fastabikhul kharat). Oleh karena itu, yang bisa dianjurkan adalah bahwa orang itu, sebagai warga negara suatu bangsa yang didasarkan kepada hak-hak asasi manusia dan hak-hak sipil, adalah menghargai perbedaan dan keragaman. Sebab keragaman akan justru memperkaya rohani. Dengan adanya penghargaan terhadap perbedaan, maka orang akan berusaha saling memahami dan bahkan juga saling belajar. Hal ini tidak berarti bahwa seseorang itu harus meleburkan perbedaannya dengan yang lain. Justru sebaliknya, pluralisme menganjurkan agar setiap orang tetap memiliki identitas dalam perbedaan. Dengan proses pengayaan rohani itu, maka orang akan menganggap bahwa setiap agama itu mengandung kebenaran

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: