Beranda > Umum > MANUSIA, HUMANISME DAN KEMANUSIAAN

MANUSIA, HUMANISME DAN KEMANUSIAAN

uploaded by: hafis.muaddab@gmail.com

Salah satu dasar Negara Indonesia adalah tentang kemanusiaan. Ia berbicara tentang hakekat manusia dipandang dari berbagai aspek. Kemudian dari situ akan menghasilkan pandangan baru tentang kemanusiaan. Suatu pandangan yang dalam dunia Barat disebut dengan humanisme. Dimana aspek-aspek yang melingkupi manusia dan kehidupannya akan dibahas dan dirumuskan.

Dalam perumusannya, Pancasila tentulah tidak sama dengan perumusan humanisme yang ada di dunia Barat, karena masing-masing mempunyai latar belakang yang berbeda. Namun, gejala yang terjadi akhir-akhir ini mengindikasikan adanya kecenderungan  untuk mengadopsi pandangan humanisme tersebut, yang dalam status ontologinya yang sarat akan nilai-nilai.

Pertanyaan selanjutnya adaah apakah humanisme yang lahir dari rahim peradaban Barat itu sesuai dengan pandangan hidup bangsa Indonesia, yang mayoritas beragama Islam? Apa pula konsep Islam tentang manusia sebenarnya? Kemudian apakah ada kesesuaian antara humanisme dan kemanusiaan?

 

Manusia dan Elemen-elemennya

Hakekat manusia adalah suatu yang misterius. Belum ada ilmuwan yang berhasil mengungkap segala aspek manusia kecuali hanya sedikit saja. Kendati kita telah memiliki perbendaharaan tentang hasil penemuan dari para ilmuwan, filosof, dan bahkan para rohaniawan, semua tidak bisa menunjukkan hakekat manusia yang sebenarnya. Masih terdapat sejumah pertanyaan yang belum terjawab akan manusia. Maka tidak keliru kiranya A. Carrel mendefinisikan manusia sebagai misteri, man the unknown.

Keberadaan manusia di dalam dunia ini dilengkapi dengan dua keadaan. Manusia adalah makhluk yang terdiri dari jasad dan ruh, artinya ia bukanlah makhluk jasadiah murni, bukan pula makhluk ruhaniah murni. Ia adalah gabungan antara keduanya yang membentuk entitas ketiga, yaitu jati dirinya sendiri. Dalam ciri khas yang dimiliki, manusia tidak dilihat dari perubahan jasadiahnya, tetapi pada ruhaniahnya.

Dalam ruh ini manusia memiliki beberapa fakultas yang berlainan dalam keadaan yang berbeda. Ketika ia sedang melakukan proses berpikir ia disebut dengan ‘aql (intelek), ketika ia mengatur tubuh, ia disebut dengan nafs (jiwa), pada saat ia bertindak sebagai organ kognitif yang mengalami pencerahan intuisi, ia disebut dengan qalb (hati), dan ketika kembali ke dunianya yang abstrak, ia disebut ruh (al Attas, 2001:148). Terminologi-terinologi tersebut lebih merujuk kepada kondisi yang dihadapi oleh ruh itu sendiri.

Manusia juga memiliki dua macam jiwa yang selaras dengan dua aspek manusia (jasmani dan ruhani). Yang lebih tinggi disebut dengan jiwa rasional (a nafs al natiqah) dan yang rendah disebut dengan jiwa hewani (al nafs al hayawaniyyah).  Pada awal penciptaannya, jiwa rasional lah yang Ia tuju. Namun ia diberi kebebasan, sehingga nasib keselamatannya tergantung pada aspek mana yang mendapat prioritas.

Manusia adalah ciptaan. Artinya ia dalah makhluk yang diciptakan. Maka manusia akan selalu berhutang wujud pada Penciptanya. Pandangan mengenai keberhutangan manusia dengan Tuhan inilah bagian dari akidah Islam. Kondisi keberhutangannya ini mencegahnya dari menganggap diri, kehidupan dan tubuhnya sebagai miliknya yang bisa dipakai semaunya. Ia kemudian diberi pengetahuan (al ‘ilm) terutama mengenai keadaan dan sifat benda-benda yang kasat mata dan juga pengetahuan tentang Tuhan. Namun manusia juga bersifat pelupa, yang bisa menjadikannya tidak taat dan cenderung melakukan kezaliman dan hal-hal yang bersifat bodoh (al Attas, 1981:205). Sekalipun begitu, manusia dianugerahi perlengkapan rohani untuk mengingat kembali apa yang diikrarkannya pada hari perjanjian primordial dulu. Perelengkapan itu adalah akal pikiran dan kecerdasannya untuk membedakan yang salah dari yang benar. Tetapi semua itu terserah pada manusia untuk memilihnya, dengan konsekuensi yang mesti ditanggungnya.

 

Sekalipun Islam menekankan manusia pada aspek jiwanya, bukan berarti jasad menjadi aspek yang tidak penting atau penghalang spiritualitas manusia. Sebaliknya, jasad memiliki kontribusi yang besar terhadap perkembangan intelektual dan spiritual manusia, sebab hanya melalui jasadlah ruh bisa memperoleh informasi dan data-data tertentu tentang dunia indrawi dan pengalaman (Wan Daud, 2003:98). Sehingga kepentingan jasad yang paling utama dalam pencapaian ilmu adalah fungsi utamanya  seabagai recovering informasi yang tersebar di alam semesta.

Dengan demikian antara keduanya mempunyai fungsi yang seimbang. Antara keduanya juga harus diperlakukan secara seimbang, Dengan kata lain, kesempurnaan manusia ada pada keselarasan antara jiwa dan jasad.

 

Humanisme

Gerakan humanisme berasal dari Eropa. Gagasan ini berkembang pada zaman Renaisans pada abad ke 15 dan 16 M. Namun kemunculan humanisme ini tidak bisa dilepasakan dari ide-ide lain yang ketika itu juga muncul seperti sekularisme dan rasionalisme.

Dalam perjalanannya, humanisme berasal dari hidupnya kembali kebudayaan klasik Yunani Romawi sebagai alternatif atas kebudayaan Kristen (yang berpusat di gereja dan dipimpin oleh pemimpin agama). Dari kekuasaan yang berpusat pada gereja itu, muncul gerakan-gerakan yang ingin melepaskan kebudayaan dari pengaruh gereja. Gerakan ini kemudian disebut dengan gerakan sekularisasi atau sekularisme. Sekularisme adalah paham yang ingin melepaskan dunia dari pengertian-pengertian keagamaan dan religius semu (al Attas, 1981:19-20).

Dengan begitu masyarakat tidak lagi dilihat sebagai susunan berdasarkan norma-norma agama (yang bersifat abadi), tetapi merupakan hasil persetujuan dan keputusan manusia, karenanya bersifat temporal dan sementara. Implikasinya adalah, manusia tidak lagi terbelenggu dalam ikatan-ikatan soisial dan struktur kemasyarakatan bentukan gereja sehingga mulai menemukan dirinya sebagai pribadi yang merdeka.

Gerakan ini berlanjut sampai pada abad ke 18. Pada abad ini humanisme mengalami perubahan konsepsi, dimana ketika itu adalah masa saintisme. Saintisme adalah paham yang memandang sains sebagai segala-galanya dalam mencapai kebenaran, kebaikan dan keindahan. Yang menjadi tumpuan dari humanisme pada masa ini adalah perhatiannya yang mendalam pada pengertian umum manusia, yaitu berhubungan dengan harkat dan martabatnya, serta hak-hak kebebasannya. Semangat yang menyertainya adalah semangat yang tegas-tegas antroposentris (yaitu manusia sebagai pusat perputaran dunia dan perkebangan sejarah). Berbeda dengan humanisme sebelumnya yang mempunyai cita ideal manusia, yaitu menjadi pribadi yang dilengkapi dengan kebajikan-kebajikan, kesempurnaan, kehalusan dan keindahan.

Dari perjalanan tersebut, muncul kemudian istilah humanisme sekuler, yaitu menepatkan manusia sebagai Tuhan. Manusialah yang menentukan segala hal dengan kebebasan individunya, asalkan tidak merugikan orang lain. Hal ini –bagi mereka- perlu dilakukan demi kepentingan akal dan sains alam. Ia dicipta atas dasar perkiraan bahwa kuasa individu menjadi satu-satunya sumber bagi makna dan kebenaran.

 

Kemanusiaan dalam Islam

Kembali pada pandangan Islam tentang manusia. Manusia adalah makhluk dua dimensi yang di dalamnya terdapat cahaya Ilahi yang ditiupkan pada ruh manusia. Ia tidak bisa terlepas dari ikatan Tuhan sejak awal mulanya. Ia telah mengadakan perjanjian primordial pada Tuhannya untuk mengakuiNya sebagai Tuhan dan melaksanakan segala perintahNya sebagai wujud pembayaran hutang atas kewujudannya.

Dalam kaitannya dengan kehidupannya, manusia dipandang oleh filosof muslim sebagai mikrokosmos. Manusia diyakini sebagai makhluk terbaik (ahsan al taqwim) dan mewakili makna simbolis bagi alam semesta. Apa yang ada pada manusia merupakan pencerminan dari alam semesta. Kendatipun kecil, ia merupakan makhluk istimewa yang mencerminkan segala realitas yang ada di alam besar (makrokosmos).

Manusia disebut dengan mikrokosmos, karena ia mengandung semua unsur kosmik yang ada, mulai dari unsur hewan, tumbuhan, bahkan malaikat dan unsur Ilahi –yang ditiupkan Tuhan kepadanya. Hal itulah yang membuat manusia sebagai makhluk dua dimensi, yaitu fisik dan spiritual.

Adapun daya yang khas dimiliki oleh manusia adalah daya nuthqiyyah atau jiwa rasional. Rasio di sini adaah sesuatu yang tidak terpisah dari apa yang dipahamkan sebagai intellectus atau al ‘aql(al Attas, 1980:87). Dengan demikian yang dimaksud dengan manusia sebagai hayawan al nathiq adalah manusia memiliki suatu fakultas batin manusia berkenaan  dengan nalar atau kemampuan berfikir secara rasional untuk merumuskan makna-makna. Kemampuan manusia mengabstraksikan makna dan memahami kata atau simbol inilah yang menyebabkan manusia mampu menciptakan sistem komunikasi simbolis yang kita sebut dengan bahasa, yang dalam bahasa Arab disebut nathiq (Mulyadi, 2006:116). Dengan kemampuannya tersebut, manusia berkemungkinan untuk menyusun beragam yang sangat berguna dan bermanfaat bagi kehidupan ini.

Sebagai mikrokosmos ini, manusia kemudian diberi tugas untuk mengemban amanah sebagai khalifah fi al ardh. Amanah menuntut pertanggungjawaban untuk adil terhadapnya. Mengatur di sini tidak hanya dalam pengertian sosio politik atau dalam pengertian mengendalikan alam secara ilmiah, tetapi yang lebih fundamental adalah dicakupnya konsep sifat yang mengandung pengertian, pemerintahan, pengendalian dan pememliharaan diri manusia oleh dirinya sendiri (al Attas, 1981:207). Mengatur di sini bukan juga sesuai dengan kemauan manusia itu sendiri, tetapi sesuai dengan kehendak Allah dan maksud Nya. Karena, sejatinya manusialah yang sanggup memikul amanah ini, karena di antara makhluk-makhluk lain –bumi, langit, dan gunung- hanya ia yang menyanggupi amanah ini. (Q 33:72).

Dengan posisi istemewa –sebagai khalifah Allah– tersebut, manusia juga disebut sebagai makhluk teomorfis (cermin Tuhan). Sebagai makhluk teomorfis maka manusia tidak hanya memiliki unsur-unsur  kemanusiaan tetapi juga unsur-unsur Tuhan, karena seperti yang dinyatakan oleh al Quran, Ia telah meniupkan ruh Nya kepada manusia. Sebagai konsekuensinya, manusia berpotensi unutk dapat memantulkan semua sifat Tuhan. Dan potensi ini hanya akan teralisasi hanya ketika manusia mencapai tingkat kesempurnaannya, yaitu insan kamil. Insan kamil disebut cermin Tuham, karena ia telah menjadi tempat termanifestsinya sifat-sifat, tindakan-tindakan, nama-nama Tuhan.

Aspek kemanusiaan lainnya adalah masalah manusia dan kebebasannya. Dalam masalah ini, para mutakallimun berebeda pendapat, apakah manusia mempunyai kebebasan ataukah semua nasib manusia sudah ditentukan. Satu pandangan yang diambil oleh golongan Ahl al Sunnah adalah bahwa Allah swt. Pencipta seluruh manusia dan alam semesta, termasuk di dalamnya adalah tindakan hamba-hamba Nya, baik yang beriman maupun yang kafir, yang taat maupun yang ingkar, semuanya terjadi karena kehendak Allah swt. Sedangkan hamba-hamba Nya mempunyai ikhtiar yang menyebabkan mereke diberi pahala ataupun azab. Semua kebaikan akan dibalas Allah swt. Dan begitu pula sebaliknya.

Al Attas dalam menjelaskan pemaparan ini merujuk pada dua ayat al Quran yang relevan, yaitu ayat tentang perjanjian primordial (Surat al Ahzab ayat 172), dan ayat tentang pemilihan manusia atas amanah yang diberikan oleh Allah swt. ketika makhluk-makhluk lain enggan menerimanya (Surat al Ahzab ayat 72-73) (Wan Daud, 2003:100). Dalam kedua ayat menjelaskan bahwa setiap jiwa memiliki kebebasan untuk memilih. Artinya, setiap orang sudah menyadari semua implikasi yang melekat bersama pilihan tersebut. Lebih lanjut al Attas memberikan istilah yang tepat untuk kebebasan dalam Islam adalah ikhtiar. Ikhtiar sebagaimana yang dipakai dalam teologi Islam tidaklah sama dengan kebebasan yang dipakai oleh kaum modern. Sebab, ikhtiar berakar kata khair, yang artinya baik, hal ini berarti ikhtiar adalah memilih sesuatu yang terbaik (Wan Daud, 2003:102). Oleh karena itu, jika bukan memilih yang baik, maka hal itu bukanlah benar-benar pilihan, melainkan ketidakadilan. Memilih sesuatu yang terbaik adalah kebebasan yang sejati dan untuk melakukannya seseorang dituntut untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Sebaliknya, memilih yang buruk adalah pilihan yang berdasarkan kejahilan dan bersumber dari aspek-aspek tercela nafsu hewani.

Epilog

Telah panjang lebar dijelaskan bahwa humanisme sekuler tidakah sama dengan humanisme –kemanusiaan- yang ada dalam Islam. Nilai-nilai yang ada dibalik kedua istilah tersebut sangat sulit untuk disandingkan, apalagi digabungkan.

Adanya upaya untuk menyamakan humanisme sekuler dan kemanusiaan akan dengan sendirinya mengalami kegagalan. Karena sentralitas Tuhan yang dibuang dalam humanisme menjadi pusat dalam kemanusiaan dan tindakan manusia.

Adanya aspek-aspek lain dalam kemanusiaan seperti konsep khalifah, mikrokosmos, dan teosentris serta konsep kebebasan sama sekali tidak dikenal dalam humanisme. Humanisme hanya memberikan kekuasaan penuh pada manusia sebagai definisi umum, yang hanya mencakup harkat dan martabat serta hak-haknya saja. Semuanya mengindikasikan pada pemusatan pada manusia (antroposentris), yang pada gilirannya akan menjadikan manusia sebagai tuhan.

Dengan begitu, telah jelas bahwa konsep kemanusiaan yang dipakai dalam Pancasila adalah kemanusiaan yang adil dan beradab, yang tercakup dalam kemanusiaan dalam Islam.

 

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: