MENGGAMBAR WAJAH DENGAN ANGKA

Desember 20, 2010 Tinggalkan komentar

Peralatan :

1. selembar kertas

2. spidol

3.  plano

Langkah – langkah :

1. gambarlah wajah dengan angka di atas kertas dengan cara : angka 3 untuk telinga, angka 0 untuk mata, + untuk hidung, = untuk mulut dan 6 untuk bentuk wajah.

2. mintalah satu orang peserta untuk keluar dari forum.

3. tunjukkan gambar yang ada di kertas kepada peserta forum dengan tanpa diketahui oleh peserta yang sudah ditunjuk untuk keluar.

4. mintalah para peserta untuk mengingat-ingat gambar tadi sebelum kemudian gambar tadi disimpan.

5. mintalah peserta yang sudah ditunjuk untuk masuk kembali ke forum.

6. forum memandu peserta yang ditunjuk tadi untuk menggambarkan apa yang telah dilihat di atas papan plano.

7. jika dapat digambarkan dengan sempurna, berarti komunikasi peserta berjalan dengan baik.

8. selamat mencoba.

Kategori:Umum

Permainan: TITI NAMA SAYA, INI BUAYA

Desember 17, 2010 Tinggalkan komentar

uploaded by: hafis.muaddab@gmail.com

Alokasi Waktu: 20-30 menit

Bahan                        : buat gambar buaya atau balon bergambar buaya,

Petunjuk                 :

Semua peserta duduk atau berdiri membentuk lingkaran. Satu peserta memegang buaya dan memberikannya pada teman disebelahnya sambil mengucapkan kalimat: “nama saya Titi. Buaya ini saya berikan kepadamu!” Peserta kedua menerima buaya itu, lalu berkata “Buaya ini saya terima dari Titi, nama saya Marjo, dan buaya ini saya berikan kepadamu!” kepada teman disebalahnya , lalu dilanjutkan ke teman disebelahnya dan disebelahnya lagi dan seterusnya hingga seluruh peserta mendapat giliran. Setelah semua peserta mendapatkan giliran dapat dilanjutkan dengan memberikan buaya secara acak sambl mengucapkan “ saya menerima buaya ini dari Novi, nama saya dodi, dan saya berikan kepada erna” Selanjutnya erna menyebutkan “ buaya ini saya terima dari dodi, nama saya erna, dan saya berikan kepada virna”. Dilakukan hingga peserta saling mengenal nama lebih banyak.

PLURALISME DAN SPIRITUALISME

Desember 17, 2010 Tinggalkan komentar

Oleh: M. Dawam Rahardjo

uploaded by: hafis.muaddab@gmail.com

Dari sudut ontologi, ada dua pandangan mengenai pluralisme. Pertama, yang mengatakan bahwa pluralisme adalah suatu paham baru yang lahir dalam masyarakat modern. Hal ini berkaitan dengan dua fenomena. Pertama, kesadaran bahwa pluralitas masyarakat dan budaya adalah suatu gejala yang memang merupakan ciri khas masyarakat modern melalui mobilitas dan konsentrasi demografis, terutama di kota-kota. Dari observasi dewasa ini masih nampak, di Indonesia umpamnaya, adalah masyarakat yang plural di satu pihak, dan masyarakat homogen di lain pihak. Masyarakat di kota Mataram, Lombok umpamanya, adalah sebuah mnasyarakat yang plural, ditandai dengan berdirinya masjid, pura dan geraja di tengah-tengah kota. Namun di situ masih ada tanda-tanda homogenitas masyarakat. Misalnya adanya perkampungan khusus Hindu-Bali, komunitas Muslim dan komunitas Kristen dengan gereja-gerejanya yang indah. Meskipun baru-baru ini telah terjadi tindak pengrusakan dan pembakaran sebuah gereja yang berdiri di tengah-tengah kota dalam serbuan yang dilancarkan kelompok Muslim fundamentalis dan tradisionalis. Di lain pihak belum pernah terjadi bentrokan antara komunitas Muslim dan Hindu-Bali. Mungkin karena komunitas Hindu cukup kuat eksidstensinya, sehingga komunitas Muslim tidak berani ambil risiko untuk bersikap agresif. Namun pluralitas itu hanya terdapat di kota-kota, terutama Mataram. Di daerah pedesaan dan kota-kota kecil, masyarakkat masih bercirikan homogenitas dan eksklusifisme. Di daerah pedasaan masih pula dijumpai daerah-daerah konsentrasi masyarakat Hindu-Bali, misalnya di kota Armada yang dulu merupakan pusat pemerintahan Hindu. Demikian pula di pulau Bali yang dominan Hindu. Di bagian Barat pulau itu terdapat kantong-kantong Muslim. Gejala ini terdapat pula di kota Denpasar yang lebih plural. Gejala yang sama terdapat pula di Indonesia. Karena pengaruh mobilitas kependudukan, proses pluralisasi terjadi dimana-mana. Mula-mula, pluralisasi terjadi karena urbanisasi ke Ibu kota dan diiikuti ke kota-kota besar lainnya, seperti Bandung Semarang, Surabaya, Makasar dan Medan, mengikuti pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja. Juga terjadi di daerah-daerah transmigrasi, walaupun transmigrasi ini masih mengikuti pola pengelompokan menurut daerah atau suku. Tetapi pluralitas ini terjadi juga di kota-kota sekitarnya, karena berpindahnya sebagian penduduk transmigrasi ke kota-kota untuk mencari pekerjaan atau melakukan usaha. Dewasa ini masyarakat plural terus berkembang dan merupakan sebuah keniscayaan dalam masyarakat modern. Sebagai dampak dari masyarakat yang makin plural, timbul ketegangan komunikasi karena budaya yang berbeda-beda. Gejala ini nampak di daerah-daerah yang mengalami konflik kesukuan dan keagamaan. Tetapi timbulnya konflik belum tentu diakibatkan faktor agama, melainkan faktor ekonomi dan politik, yang kemudian menyerat konflik kesukuan dan keagamaanm. Hal ini nampak misalnya dalam konflik di Ambon, antara suku Ambon dan Bugis-Makasar yang kebetulan memang berbeda agama. Demikian pula konflik di Sambas yang melibatkan suku Dayak dan Melayu di satu pihak, dan suku Madura pada lain pihak. Konon, orang Dayak merasa terusik oleh sikap dan perilaku orang Madura dengan budaya caroknya. Tetapi di balik itu nampak latar belakang kepentingan sosial-ekonomi yang cukup kental. Hubungan konflik-ketegangan ini pada gilirannya, menimbulkan dan ditimbulkan oleh dua hal, yaitu eksklusivisme dan sektarianisme. Konflik karena perbedaan suku dan agama memang bisa menimbulkan sikap yang makin eksklusif dalam pengelompokan-pengelompokan, disebabkan keinginan untuk mempertahankan diri dan identitas budaya. Namun disadari pula bahwa sikap ini tidak memecahkan masalah pluralitas, melainkan bisa memperuncing dan mempertajam konflik. Hal ini akan bertentangan dengan kebangsaanyang menghendaki integrasi dan persatuan. Walaupun demikian harus diakui juga berdasarkan pengalaman, bahwa persatuan bisa menghilangkan identitas budaya. Pembinaan kebudayaan misalnya, telah menyebabkan lenyapnya budaya-budaya daerah. Demikian pula pemakaian bahasa nasional Indonesia telah mematikan bahasa daerah. Termasuk bahasa Jawa yang dipakai oleh orang Jawa yang berjumlah amat banyak tersebut. Budaya Jawa yang adiluhung itupun berada dalam proses melenyap. Dengan demikian, paham kebangsaan ini menghadapi dilema. Berhadapan dengan dilema itu maka pluralisme adalah sebuah solusi. Di satu pihak, pluralisme menghendaki integrasi dan persatuan. Tapi di lain pihak, pluralitas juga memelihara dan mempertahankan identitas budaya. Pluralisme merupakan salah satu gejala dari pasca-modernisme yang kembali kepada keragaman. Karena itu, adalah salah paham besar jika pluralisme dianggap sebagai suatu paham yang akan melebur identitas menjadi kesatuan. Pluralisme adalah suatu keharusan bagi masyarakat modern dan kebangsaan. Menurut Dr. Kaustar Azhari Noor, pluralitas ini bukan suatu hal baru dalam Islam. Islam berkembang justru pada masyarakat yang plural, seperti Yastrib yang kemudian menciptakan masyarakat Madinah itu. Selama 10 tahun Islam kurang berkembang dalam masyarakat homogen di Mekah. Terbentuknya masyarakat Madani dimungkinkan oleh pluralisme yang ditempuh oleh Muhammad. Masyarakat Madinah yang modern pada`zamannya itu, adalah sebuah masyarakat yang plural. Pada waktu itu, dalam proses perundingan, umat Islam hanya mewakili 10 persen saja dari seluruh komunitas yang di dominasi oleh kaum Yahudi, Nasrani, penganut agama Pagan dan penganut keyakinan tradisional Hanafiyah. Dalam masyuarakat yang plural itulah, justru Islam memiliki peluang untuk berkembang melalui dakwah dan kepemimpinan Nabi. Selanjutnya peradaban Islam sejak awal juga sudah bersifat plural. Justru peradaban dibentuk oleh pluralitas itu. Melalui interaksi antar budaya, peradaban Islam mengalami proses pengayaan. Filsafat dan ilmu pengetahuan mulai berkembang ketika Islam berjumpa dengan kebudayaan Yunani, Romawi, Persia dan India. Sejala dengan pemikiran itu, maka pluralisme juga bukan merupakan gejala baru di Indonesia. Paham pluralismne itu diekspresikan dalam kata Empu Tantular yang hidup pada abad ke-9 M, “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya kegamanan dan kesatuan yang merupakan ciri budaya Nusantara pada masa imperium kerajaan Singosari. Atas dasar pluralisme itulah, lahir Pancasila yang dirumuskan oleh Bung Karno dan para Pendiri Bangsa. Sesunguhnya Pancasila adalah manifestasi dari kebangsaan dan pluralisme itu sendiri. Menurut Dr. Alwi Shihab dan K.H. Dr. Said `Aqil Siraj, pluralisme adalah suatu sunatullah. Tuhan menciptakan segala sesuatu beraneka ragam. Dalam al Qur’an di katakan bahwa Allah menciptakan flora dan fauna dalam berbagai macam, karena memang iman umat Islam aneka ragam. Demikian pula bahasa dan umat manusia dalamberbagai suku dan bangsa. Agama dan kepercayaan demikian pula, dibiarkan plural. Dikatakan oleh Allah antara lain, bahwa jika Allah menghendaki, maka semua umat manusia itu menganut satu agama saja. Tetapi Allah menciptakan keragaman agama-agama, agar apat menguji siapa yang paling baik amalnya. Karena itu yang diharuskan adalah “berlomba-loma dalam kebajikan” (fastabikhul khairat). Pluralisme pada pokonya ada dua macam. Pertama adalah pluralisme budaya. Kedua adalah pluralisme agama. Pluralisme pertama tidak banyak ditentang. Tetapi pluralisme agama banyak ditentang oleh kalangan umat Islam. Hal ini disebabkan karena kesalah-pahaman persepsi mengenai arti pluralisme. Pertama, pluralisme dianggap sebagai paham yang menganggap semua agama itu sama dan benar, dan karena itu mengarah kepada sinkretisme. Kedua, pluralisme menghilangkan identitas agama-agama, karena mengarah kepada penyatuan agama. Dan ketiga, pluraluisme dianggap sebagai suatu ancaman karena akan melemahkan iman umat Islam. Memang pluralisme berasumsi bahwa semua agama itu sama dan sama benar. Tapi hal ini didasarkan pada sikap dan anggapan baik terhadap semua agama. Konsekuensinya, agama yang baik dan benar itu tidak satu agama atau suatu agama tertentu saja, melainkan semua agama. Sebab jika hanya ada satu saja agama yang baik dan yang benar, maka agama-agama lain dianggap tidak baik dan tidak benar. Kedua, yang mengatakan semua agama itu baik dan benar adalah negara. Karena negara tidak bisa menganggap yang benar dan baik adalah agama tertentu. Untuk bisa adil, negara harus netral agama. Ini tentu saja tidak dengan bertolak pada anggapan bahwa semua agama harus dilebur jadi satu dalam suatu sinkretisme. Melainkan harus membiarkan agama itu beraneka ragam yang hidup dan berkembang secara bebas. Pertanyaan yang sering timbul adalah, mengapa seolah-olah tidak boleh seseorang itu berkeyakinan bahwa agamanyalah yang paling benar, sesuai dengan firman Allah dalam al Qur’an “Bahwasanya agama yang benar di sisi Allah itu adalah Islam” ? Jika orang tidak diperkenankan menganggap agamanyalah yang paling benar, maka hal ini bertentangan dengan prinsip kebebasan beragama. Lagi pula setiap orang itu menjatuhkan pilihannya kepada agama tertentu, berdasarkan keyakinan bahwa agama yang dipilihnya itulah yang paling benar. Hanya saja perlu diingat bahwa pilihan itu adalah pilihan pribadi, bukan pilihan kolektif. Agama Islam dianggap paling benar hanya oleh orang yang percaya saja. Orang yang punya kepercayaan lain, misalnya Kristen atau Konghucu umpamanya, tentu punya pendapat lain. Dengan pilihan yang beragam itu, maka menurut paham kebangsaan, tidak ada agama yang paling benar bagi semua orang. Bagi banyak orang, agama yang benar itu berbeda-beda, sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Dengan perkataan lain, harus diberi kebebasan bagi setiap orang untuk memilih mana agama yang dianggap paling benar. Di situlah Tuhan akan menguji mana yang paling konsekuen. Karena itu, maka Tuhan hanya memerintahkan “Berlomba-lombalah dalam berbuat kebajikan” (fastabikhul kharat). Oleh karena itu, yang bisa dianjurkan adalah bahwa orang itu, sebagai warga negara suatu bangsa yang didasarkan kepada hak-hak asasi manusia dan hak-hak sipil, adalah menghargai perbedaan dan keragaman. Sebab keragaman akan justru memperkaya rohani. Dengan adanya penghargaan terhadap perbedaan, maka orang akan berusaha saling memahami dan bahkan juga saling belajar. Hal ini tidak berarti bahwa seseorang itu harus meleburkan perbedaannya dengan yang lain. Justru sebaliknya, pluralisme menganjurkan agar setiap orang tetap memiliki identitas dalam perbedaan. Dengan proses pengayaan rohani itu, maka orang akan menganggap bahwa setiap agama itu mengandung kebenaran

MANUSIA, HUMANISME DAN KEMANUSIAAN

Desember 17, 2010 Tinggalkan komentar

uploaded by: hafis.muaddab@gmail.com

Salah satu dasar Negara Indonesia adalah tentang kemanusiaan. Ia berbicara tentang hakekat manusia dipandang dari berbagai aspek. Kemudian dari situ akan menghasilkan pandangan baru tentang kemanusiaan. Suatu pandangan yang dalam dunia Barat disebut dengan humanisme. Dimana aspek-aspek yang melingkupi manusia dan kehidupannya akan dibahas dan dirumuskan.

Dalam perumusannya, Pancasila tentulah tidak sama dengan perumusan humanisme yang ada di dunia Barat, karena masing-masing mempunyai latar belakang yang berbeda. Namun, gejala yang terjadi akhir-akhir ini mengindikasikan adanya kecenderungan  untuk mengadopsi pandangan humanisme tersebut, yang dalam status ontologinya yang sarat akan nilai-nilai.

Pertanyaan selanjutnya adaah apakah humanisme yang lahir dari rahim peradaban Barat itu sesuai dengan pandangan hidup bangsa Indonesia, yang mayoritas beragama Islam? Apa pula konsep Islam tentang manusia sebenarnya? Kemudian apakah ada kesesuaian antara humanisme dan kemanusiaan?

 

Manusia dan Elemen-elemennya

Hakekat manusia adalah suatu yang misterius. Belum ada ilmuwan yang berhasil mengungkap segala aspek manusia kecuali hanya sedikit saja. Kendati kita telah memiliki perbendaharaan tentang hasil penemuan dari para ilmuwan, filosof, dan bahkan para rohaniawan, semua tidak bisa menunjukkan hakekat manusia yang sebenarnya. Masih terdapat sejumah pertanyaan yang belum terjawab akan manusia. Maka tidak keliru kiranya A. Carrel mendefinisikan manusia sebagai misteri, man the unknown.

Keberadaan manusia di dalam dunia ini dilengkapi dengan dua keadaan. Manusia adalah makhluk yang terdiri dari jasad dan ruh, artinya ia bukanlah makhluk jasadiah murni, bukan pula makhluk ruhaniah murni. Ia adalah gabungan antara keduanya yang membentuk entitas ketiga, yaitu jati dirinya sendiri. Dalam ciri khas yang dimiliki, manusia tidak dilihat dari perubahan jasadiahnya, tetapi pada ruhaniahnya.

Dalam ruh ini manusia memiliki beberapa fakultas yang berlainan dalam keadaan yang berbeda. Ketika ia sedang melakukan proses berpikir ia disebut dengan ‘aql (intelek), ketika ia mengatur tubuh, ia disebut dengan nafs (jiwa), pada saat ia bertindak sebagai organ kognitif yang mengalami pencerahan intuisi, ia disebut dengan qalb (hati), dan ketika kembali ke dunianya yang abstrak, ia disebut ruh (al Attas, 2001:148). Terminologi-terinologi tersebut lebih merujuk kepada kondisi yang dihadapi oleh ruh itu sendiri.

Manusia juga memiliki dua macam jiwa yang selaras dengan dua aspek manusia (jasmani dan ruhani). Yang lebih tinggi disebut dengan jiwa rasional (a nafs al natiqah) dan yang rendah disebut dengan jiwa hewani (al nafs al hayawaniyyah).  Pada awal penciptaannya, jiwa rasional lah yang Ia tuju. Namun ia diberi kebebasan, sehingga nasib keselamatannya tergantung pada aspek mana yang mendapat prioritas.

Manusia adalah ciptaan. Artinya ia dalah makhluk yang diciptakan. Maka manusia akan selalu berhutang wujud pada Penciptanya. Pandangan mengenai keberhutangan manusia dengan Tuhan inilah bagian dari akidah Islam. Kondisi keberhutangannya ini mencegahnya dari menganggap diri, kehidupan dan tubuhnya sebagai miliknya yang bisa dipakai semaunya. Ia kemudian diberi pengetahuan (al ‘ilm) terutama mengenai keadaan dan sifat benda-benda yang kasat mata dan juga pengetahuan tentang Tuhan. Namun manusia juga bersifat pelupa, yang bisa menjadikannya tidak taat dan cenderung melakukan kezaliman dan hal-hal yang bersifat bodoh (al Attas, 1981:205). Sekalipun begitu, manusia dianugerahi perlengkapan rohani untuk mengingat kembali apa yang diikrarkannya pada hari perjanjian primordial dulu. Perelengkapan itu adalah akal pikiran dan kecerdasannya untuk membedakan yang salah dari yang benar. Tetapi semua itu terserah pada manusia untuk memilihnya, dengan konsekuensi yang mesti ditanggungnya.

 

Sekalipun Islam menekankan manusia pada aspek jiwanya, bukan berarti jasad menjadi aspek yang tidak penting atau penghalang spiritualitas manusia. Sebaliknya, jasad memiliki kontribusi yang besar terhadap perkembangan intelektual dan spiritual manusia, sebab hanya melalui jasadlah ruh bisa memperoleh informasi dan data-data tertentu tentang dunia indrawi dan pengalaman (Wan Daud, 2003:98). Sehingga kepentingan jasad yang paling utama dalam pencapaian ilmu adalah fungsi utamanya  seabagai recovering informasi yang tersebar di alam semesta.

Dengan demikian antara keduanya mempunyai fungsi yang seimbang. Antara keduanya juga harus diperlakukan secara seimbang, Dengan kata lain, kesempurnaan manusia ada pada keselarasan antara jiwa dan jasad.

 

Humanisme

Gerakan humanisme berasal dari Eropa. Gagasan ini berkembang pada zaman Renaisans pada abad ke 15 dan 16 M. Namun kemunculan humanisme ini tidak bisa dilepasakan dari ide-ide lain yang ketika itu juga muncul seperti sekularisme dan rasionalisme.

Dalam perjalanannya, humanisme berasal dari hidupnya kembali kebudayaan klasik Yunani Romawi sebagai alternatif atas kebudayaan Kristen (yang berpusat di gereja dan dipimpin oleh pemimpin agama). Dari kekuasaan yang berpusat pada gereja itu, muncul gerakan-gerakan yang ingin melepaskan kebudayaan dari pengaruh gereja. Gerakan ini kemudian disebut dengan gerakan sekularisasi atau sekularisme. Sekularisme adalah paham yang ingin melepaskan dunia dari pengertian-pengertian keagamaan dan religius semu (al Attas, 1981:19-20).

Dengan begitu masyarakat tidak lagi dilihat sebagai susunan berdasarkan norma-norma agama (yang bersifat abadi), tetapi merupakan hasil persetujuan dan keputusan manusia, karenanya bersifat temporal dan sementara. Implikasinya adalah, manusia tidak lagi terbelenggu dalam ikatan-ikatan soisial dan struktur kemasyarakatan bentukan gereja sehingga mulai menemukan dirinya sebagai pribadi yang merdeka.

Gerakan ini berlanjut sampai pada abad ke 18. Pada abad ini humanisme mengalami perubahan konsepsi, dimana ketika itu adalah masa saintisme. Saintisme adalah paham yang memandang sains sebagai segala-galanya dalam mencapai kebenaran, kebaikan dan keindahan. Yang menjadi tumpuan dari humanisme pada masa ini adalah perhatiannya yang mendalam pada pengertian umum manusia, yaitu berhubungan dengan harkat dan martabatnya, serta hak-hak kebebasannya. Semangat yang menyertainya adalah semangat yang tegas-tegas antroposentris (yaitu manusia sebagai pusat perputaran dunia dan perkebangan sejarah). Berbeda dengan humanisme sebelumnya yang mempunyai cita ideal manusia, yaitu menjadi pribadi yang dilengkapi dengan kebajikan-kebajikan, kesempurnaan, kehalusan dan keindahan.

Dari perjalanan tersebut, muncul kemudian istilah humanisme sekuler, yaitu menepatkan manusia sebagai Tuhan. Manusialah yang menentukan segala hal dengan kebebasan individunya, asalkan tidak merugikan orang lain. Hal ini –bagi mereka- perlu dilakukan demi kepentingan akal dan sains alam. Ia dicipta atas dasar perkiraan bahwa kuasa individu menjadi satu-satunya sumber bagi makna dan kebenaran.

 

Kemanusiaan dalam Islam

Kembali pada pandangan Islam tentang manusia. Manusia adalah makhluk dua dimensi yang di dalamnya terdapat cahaya Ilahi yang ditiupkan pada ruh manusia. Ia tidak bisa terlepas dari ikatan Tuhan sejak awal mulanya. Ia telah mengadakan perjanjian primordial pada Tuhannya untuk mengakuiNya sebagai Tuhan dan melaksanakan segala perintahNya sebagai wujud pembayaran hutang atas kewujudannya.

Dalam kaitannya dengan kehidupannya, manusia dipandang oleh filosof muslim sebagai mikrokosmos. Manusia diyakini sebagai makhluk terbaik (ahsan al taqwim) dan mewakili makna simbolis bagi alam semesta. Apa yang ada pada manusia merupakan pencerminan dari alam semesta. Kendatipun kecil, ia merupakan makhluk istimewa yang mencerminkan segala realitas yang ada di alam besar (makrokosmos).

Manusia disebut dengan mikrokosmos, karena ia mengandung semua unsur kosmik yang ada, mulai dari unsur hewan, tumbuhan, bahkan malaikat dan unsur Ilahi –yang ditiupkan Tuhan kepadanya. Hal itulah yang membuat manusia sebagai makhluk dua dimensi, yaitu fisik dan spiritual.

Adapun daya yang khas dimiliki oleh manusia adalah daya nuthqiyyah atau jiwa rasional. Rasio di sini adaah sesuatu yang tidak terpisah dari apa yang dipahamkan sebagai intellectus atau al ‘aql(al Attas, 1980:87). Dengan demikian yang dimaksud dengan manusia sebagai hayawan al nathiq adalah manusia memiliki suatu fakultas batin manusia berkenaan  dengan nalar atau kemampuan berfikir secara rasional untuk merumuskan makna-makna. Kemampuan manusia mengabstraksikan makna dan memahami kata atau simbol inilah yang menyebabkan manusia mampu menciptakan sistem komunikasi simbolis yang kita sebut dengan bahasa, yang dalam bahasa Arab disebut nathiq (Mulyadi, 2006:116). Dengan kemampuannya tersebut, manusia berkemungkinan untuk menyusun beragam yang sangat berguna dan bermanfaat bagi kehidupan ini.

Sebagai mikrokosmos ini, manusia kemudian diberi tugas untuk mengemban amanah sebagai khalifah fi al ardh. Amanah menuntut pertanggungjawaban untuk adil terhadapnya. Mengatur di sini tidak hanya dalam pengertian sosio politik atau dalam pengertian mengendalikan alam secara ilmiah, tetapi yang lebih fundamental adalah dicakupnya konsep sifat yang mengandung pengertian, pemerintahan, pengendalian dan pememliharaan diri manusia oleh dirinya sendiri (al Attas, 1981:207). Mengatur di sini bukan juga sesuai dengan kemauan manusia itu sendiri, tetapi sesuai dengan kehendak Allah dan maksud Nya. Karena, sejatinya manusialah yang sanggup memikul amanah ini, karena di antara makhluk-makhluk lain –bumi, langit, dan gunung- hanya ia yang menyanggupi amanah ini. (Q 33:72).

Dengan posisi istemewa –sebagai khalifah Allah– tersebut, manusia juga disebut sebagai makhluk teomorfis (cermin Tuhan). Sebagai makhluk teomorfis maka manusia tidak hanya memiliki unsur-unsur  kemanusiaan tetapi juga unsur-unsur Tuhan, karena seperti yang dinyatakan oleh al Quran, Ia telah meniupkan ruh Nya kepada manusia. Sebagai konsekuensinya, manusia berpotensi unutk dapat memantulkan semua sifat Tuhan. Dan potensi ini hanya akan teralisasi hanya ketika manusia mencapai tingkat kesempurnaannya, yaitu insan kamil. Insan kamil disebut cermin Tuham, karena ia telah menjadi tempat termanifestsinya sifat-sifat, tindakan-tindakan, nama-nama Tuhan.

Aspek kemanusiaan lainnya adalah masalah manusia dan kebebasannya. Dalam masalah ini, para mutakallimun berebeda pendapat, apakah manusia mempunyai kebebasan ataukah semua nasib manusia sudah ditentukan. Satu pandangan yang diambil oleh golongan Ahl al Sunnah adalah bahwa Allah swt. Pencipta seluruh manusia dan alam semesta, termasuk di dalamnya adalah tindakan hamba-hamba Nya, baik yang beriman maupun yang kafir, yang taat maupun yang ingkar, semuanya terjadi karena kehendak Allah swt. Sedangkan hamba-hamba Nya mempunyai ikhtiar yang menyebabkan mereke diberi pahala ataupun azab. Semua kebaikan akan dibalas Allah swt. Dan begitu pula sebaliknya.

Al Attas dalam menjelaskan pemaparan ini merujuk pada dua ayat al Quran yang relevan, yaitu ayat tentang perjanjian primordial (Surat al Ahzab ayat 172), dan ayat tentang pemilihan manusia atas amanah yang diberikan oleh Allah swt. ketika makhluk-makhluk lain enggan menerimanya (Surat al Ahzab ayat 72-73) (Wan Daud, 2003:100). Dalam kedua ayat menjelaskan bahwa setiap jiwa memiliki kebebasan untuk memilih. Artinya, setiap orang sudah menyadari semua implikasi yang melekat bersama pilihan tersebut. Lebih lanjut al Attas memberikan istilah yang tepat untuk kebebasan dalam Islam adalah ikhtiar. Ikhtiar sebagaimana yang dipakai dalam teologi Islam tidaklah sama dengan kebebasan yang dipakai oleh kaum modern. Sebab, ikhtiar berakar kata khair, yang artinya baik, hal ini berarti ikhtiar adalah memilih sesuatu yang terbaik (Wan Daud, 2003:102). Oleh karena itu, jika bukan memilih yang baik, maka hal itu bukanlah benar-benar pilihan, melainkan ketidakadilan. Memilih sesuatu yang terbaik adalah kebebasan yang sejati dan untuk melakukannya seseorang dituntut untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Sebaliknya, memilih yang buruk adalah pilihan yang berdasarkan kejahilan dan bersumber dari aspek-aspek tercela nafsu hewani.

Epilog

Telah panjang lebar dijelaskan bahwa humanisme sekuler tidakah sama dengan humanisme –kemanusiaan- yang ada dalam Islam. Nilai-nilai yang ada dibalik kedua istilah tersebut sangat sulit untuk disandingkan, apalagi digabungkan.

Adanya upaya untuk menyamakan humanisme sekuler dan kemanusiaan akan dengan sendirinya mengalami kegagalan. Karena sentralitas Tuhan yang dibuang dalam humanisme menjadi pusat dalam kemanusiaan dan tindakan manusia.

Adanya aspek-aspek lain dalam kemanusiaan seperti konsep khalifah, mikrokosmos, dan teosentris serta konsep kebebasan sama sekali tidak dikenal dalam humanisme. Humanisme hanya memberikan kekuasaan penuh pada manusia sebagai definisi umum, yang hanya mencakup harkat dan martabat serta hak-haknya saja. Semuanya mengindikasikan pada pemusatan pada manusia (antroposentris), yang pada gilirannya akan menjadikan manusia sebagai tuhan.

Dengan begitu, telah jelas bahwa konsep kemanusiaan yang dipakai dalam Pancasila adalah kemanusiaan yang adil dan beradab, yang tercakup dalam kemanusiaan dalam Islam.

 

Laporan Keuangan Bulan November Tahun 2010

Desember 16, 2010 1 komentar

A. GAMBARAN UMUM PENGELOLAAN BLM


Tahun Jumlah (Rp)
2008 1.000.000.000
2009

900.000.000

2010

1.250.000.000

TOTAL

3.150.000.000

Kecamatan Kamal merupakan salah satu kecamatan di kabupaten Bangkalan yang mendapatkan alokasi dana BLM PNPM Mandiri Perdesaan BLM yang Dikelola UPK :


1. Penyaluran Dana BLM PNPM- MP Kecamatan Kamal

Tahun

Jenis Kegiatan

Desa Pemanfaat

Alokasi

2008

Sarana prasarana Desa Tajungan, Gili Barat, Banyuajuh, Kamal, Tanjung Jati, Kebun, Gili Timur, dan Pendabah

Rp    555.358.300

SPP Desa Banyuajuh, Tanjung Jati, Gili Timur, dan Telang

Rp.   158.000.000

Pendidikan Desa Telang dan Gili Anyar

Rp    236.643.600

2009

pembangunan sarana prasarana Desa Tajungan, Gili Barat, Gili Anyar, Kamal, Telang, Kebun, Gili Timur, dan Pendabah

Rp.   670.569.900

Pendidikan Desa Tanjung Jati dan Banyu Ajuh

Rp    139.430.200

SPP Desa Telang, Gili Timur

Rp.     45.000.000

2010

Pembangunan sarana prasarana Desa Tajungan, Tanjung Jati, Gili Anyar, Kamal, Banyuajuh, Kebun, Gili Timur, dan Pendabah

Rp    839.883.700

Pendidikan Desa Gili Barat dan Telang

Rp    197.848.000

SPP Gili Timur, Banyuajuh, Tanjung Jati dan Telang

Rp    158.000.000

Realisasi penggunaan dana untuk kegiatan pembangunan sarana prasarana, SPP, pendidikan, operasional TPK (3%), dan operasional UPK (2%) masing-masing secara berurutan yakni, Rp 640.441.000,00 (76,25%); Rp 150.000.000,00 (100%);  Rp 158.080.900,00 (79,90%); Rp 29.997.900,00 (80,29%); dan  Rp 19.998.700,00 (80,29%). Sehingga total penggunaan dana secara keseluruhan sebesar  Rp 998.518.500,00 dengan persentase sebesar 79,88%.

2. Penyaluran Dana Simpan Pinjam Perempuan (SPP)

Tahun

Hari/Tanggal Kegiatan

Lokasi

Alokasi

2008

Alokasi BLM Desa Banyuajuh, Tanjung Jati, Gili Timur, dan Telang

Rp 158.000.000

2009

Alokasi BLM

28 Des 2009

Desa Gili Timur dan Telang

Rp   45.000.000

Perguliran I

16+17 Sept 2009

Desa Banyuajuh, Tanjung Jati, Gili Timur, dan Telang

Rp 154.000.000

2010

Perguliran II Tahap I

19 Maret 2010

Desa Tanjung Jati, Banyuajuh, dan Tajungan

Rp 115.000.000

Perguliran II Tahap II

21 Mei 2010

Desa Banyuajuh

Rp  26.000.000

Perguliran III Tahap I

09 Agustus 2010

Desa Banyuajuh dan Tanjung Jati

Rp  71.000.000

Alokasi BLM Tahap I

19 Agustus 2010

Desa Tanjung Jati dan Gili Timur

Rp  58.000.000

Alokasi BLM Tahap II

03 Sept 2010

Desa Banyuajuh dan Telang

Rp  92.000.000

Perguliran III Tahap II

07 Sept 2010

Desa Telang dan Gili Timur

Rp  60.000.000

Perguliran IV Tahap I

02 Des 2010

Desa Banyuajuh dan Tanjung Jati

Rp  89.000.000

B. PERKEMBANGAN KELOMPOK SPP

Perguliran II SPP juga dilaksanakan 20 April 2010 Sebesar Rp 26.000.000,00 untuk: Desa Banyuajuh dan juga dilaksanakan pada 21 Mei 2010 sebesar Rp 40.000.000,00 untuk Kelompok Anggrek sebesar Rp 20.000.000,00 serta Kelompok Amanah sebesar Rp 20.000.000,00.

Perguliran III SPP dilaksanakan 09 Agustus 2010 sebesar Rp 71.000.000,00 yang terdiri dari Kelompok PKK RT 02 RW 03 Desa Tanjung Jati sebesar Rp 14.000.000,00, Kelompok PKK RW 08 Desa Banyuajuh sebesar Rp 12.000.000,00, Kelompok PKK RW 01 Desa Banyuajuh sebesar Rp 12.000.000,00, dan Kelompok Pengajian Karang Anyar Desa Banyuajuh sebesar Rp 33.000.000,00.

Pencairan SPP BLM 2010 Tahap I dilaksanakan 19 Agustus 2010 sebesar Rp 58.000.000,00 yang terdiri dari Kelompok PKK RT 02 RW 02 Desa Tanjung Jati sebesar Rp 10.000.000,00, Kelompok Pengajian RT 02 RW 02 Desa Tanjung Jati sebesar Rp 12.000.000,00, Kelompok Dawis Salak 02 Desa Tanjung Jati sebesar Rp 6.000.000,00, dan Kelompok Arisan Dusun Markas sebesar Rp 30.000.000,00.

Pencairan SPP BLM 2010 Tahap II dilaksanakan 03 September 2010 sebesar Rp 92.000.000,00 yang terdiri dari Kelompok PKK RW 05 Desa Banyuajuh sebesar Rp 12.000.000,00, Kelompok PKK RW 06 Desa Banyuajuh sebesar Rp 20.000.000,00, Kelompok PKK RW 07 Desa Banyuajuh sebesar Rp 10.000.000,00, Kelompok PKK RW 09 Desa Banyuajuh sebesar Rp 15.000.000,00 dan Kelompok Melati Desa Telang sebesar Rp 35.000.000,00.

Perguliran III SPP juga dilaksanakan 07 September 2010 sebesar Rp 60.000.000,00 yang terdiri dari Kelompok Mawar Desa Telang sebesar Rp 30.000.000,00 dan Kelompok Pengajian Dusun Sumber Desa Gili Timur sebesar Rp 30.000.000,00.

C. ANGSURAN DAN TUGGAKAN SPP

Angsuran pengembalian SPP BLM dan perguliran yang terdiri dari pinjaman pokok sebesar Rp 504.657.400,00 dan bunganya sebesar Rp 91.515.000,00. Total pengembalian pinjaman pokok dan bunganya, yaitu sebesar Rp 595.582.400,00 dan saldo pinjaman SPP sebesar Rp 314.342.600,00.

Tunggakan SPP dana BLM tahun 2009 sebesar Rp 5.033.100,00 yaitu Kelompok Arisan Dusun Labang Desa Gili Timur sebesar Rp 2.663.400,00 (pengembalian pinjaman pokok sebesar Rp 2.663.400,00 dan bunganya sebesar Rp 0,00) dan Kelompok Teratai Desa Telang Rp 2.369.700,00 (pengembalian pinjaman pokok sebesar Rp 1.994.700,00 dan bunganya sebesar Rp 375.000,00).

Tunggakan SPP dana BLM tahun 2010 sebesar Rp 1.830.000,00 yaitu Kelompok Arisan Dusun Markas Desa Gili Timur sebesar Rp 650.000,00 (pengembalian pinjaman pokok sebesar Rp 650.000,00 dan bunganya sebesar Rp 0,00), Kelompok Pengajian RT 02 RW 02 Desa Tanjung Jati Rp 1.180.000,00 (pengembalian pinjaman pokok sebesar Rp 1.000.000,00 dan bunganya sebesar Rp 180.000,00). Tunggakan Perguliran I SPP Kelompok Pengajian Dusun Sumber Desa Tanjung Jati sebesar  Rp 430.000,00 (pengembalian pinjaman pokok sebesar Rp 430.000,00 dan bunganya sebesar Rp 0,00).

Tunggakan Perguliran II SPP sebesar Rp 8.850.000,00 yaitu Kelompok Hidayah Desa Tajungan selama dua bulan tunggakan angsuran (pengembalian pinjaman pokok sebesar Rp 7.500.000,00 dan bunganya sebesar Rp 1.350.000,00).

Tunggakan Perguliran III SPP sebesar Rp 4.660.000,00 terdiri dari Kelompok PKK RT 02 RW 03 Desa Tanjung Jati sebesar Rp 1.330.000,00 (pengembalian pinjaman pokok sebesar Rp 1.120.000,00 dan bunganya sebesar Rp 210.000,00), Kelompok Pengajian Dusun Sumber Desa Gili Timur sebesar Rp 430.000,00 (pengembalian pinjaman pokok sebesar Rp 430.000,00 dan bunganya sebesar Rp 0,00) dan Kelompok Mawar Desa Telang Rp 2.900.000,00 (pengembalian pinjaman pokok sebesar Rp 2.450.000,00 dan bunganya sebesar Rp 450.000,00).

D. SURPLUS BERJALAN DAN SURPLUS DITAHAN

Surplus berjalan pada bulan Nopember 2010 sebesar Rp 44.940.391,40 dan Surplus ditahan sampai dengan 2009 sebesar  Rp 21.391.974,1 .

E. LAPORAN PENYERAPAN DOK

Kecamatan Kamal juga mendapatkan Dana Operasional Kegiatan (DOK) untuk perencanaan dan DOK untuk pelatihan masyarakat dalam mendukung lancarnya kegiatan PNPM-MP.

a. DOK Tahun 2008

Alokasi DOK Perencanaan sebesar Rp 73.600.000,00 dan DOK Pelatihan sebesar Rp 17.150.000,00. Penyerapan DOK Perencanaan sampai dengan bulan Nopember 2010 sebesar Rp 64.343.500,00 dan saldo bank ((Pencairan+Bunga) – (Penyerapan+Pajak+Administrasi)) sebesar Rp 6.330.023,69. Penyerapan DOK Pelatihan sampai dengan bulan Nopember 2010 sebesar Rp 14.933.000,00 dan saldo bank ((Pencairan+Bunga) – (Penyerapan+Pajak+Administrasi)) sebesar Rp 2.455.881,65.

b. DOK Tahun 2009 dan DOK Tahun 2010

Rekening untuk Dana Operasional Kegiatan (DOK) Perencanaan dan DOK Pelatihan tahun 2009 dan Dana Operasional Kegiatan (DOK) Perencanaan dan DOK Pelatihan tahun 2010 digabung menjadi satu rekening.

Alokasi Dana Operasional Kegiatan (DOK) Perencanaan tahun 2009 sebesar Rp 39.800.000,00 dan Dana Operasional Kegiatan (DOK) Perencanaan tahun 2010 sebesar Rp. 39.800.000,00 (100%) sedangkan DOK pelatihan tahun 2009 sebesar Rp 17.025.000,00 dan DOK Pelatihan tahun 2010 sebesar Rp 18.525.000,00 (100%).

Penyerapan DOK Perencanaan tahun 2009-2010 sampai dengan bulan Nopember 2010 sebesar Rp 66.410.000,00 dan saldo bank ((Pencairan+Bunga)- (Penyerapan+Pajak+Administrasi)) sebesar Rp 15.098.820,77. Penyerapan DOK Pelatihan tahun 2009 sampai dengan bulan Nopember 2010 sebesar Rp 28.134.000,00 dan saldo bank ((Pencairan+Bunga) – (Penyerapan+Pajak+Administrasi)) sebesar Rp 5.915.834,53.

Laporan Keuangan Bulan Oktober Tahun 2010

Desember 16, 2010 1 komentar

GAMBARAN UMUM PERMASALAHAN

Kecamatan Kamal merupakan salah satu kecamatan di kabupaten Bangkalan yang mendapatkan alokasi dana BLM PNPM Mandiri Perdesaan Tahun Anggaran 2008 dan Tahun Anggaran 2009. Alokasi BLM Tahun Anggaran 2008 untuk Kecamatan Kamal sebesar Rp. 1.000.000.000,- yang terdiri dari 20% (Rp 200.000.000,00) merupakan dana Cost Sharing APBD dan 80%  (Rp 800.000.000,00) merupakan dana APBN pinjaman luar negeri. Sedangkan pada Tahun Anggaran 2009 alokasi BLM untuk Kecamatan Kamal turun dari    Rp 1.000.000.000,- menjadi Rp 900.000.000,- . Alokasi BLM Tahun Anggaran 2010 sebesar Rp 1.250.000.000,00.

1. Penyaluran Dana BLM Tahun 2008

Dana BLM Tahun 2008 ini disalurkan kepada 10 desa yang ada di Kecamatan Kamal sesuai dengan usulan kegiatan yang diajukan. Kegiatan tersebut meliputi kegiatan pembangunan sarana prasarana, SPP, dan pendidikan. Alokasi dana BLM Tahun 2008 untuk kegiatan pembangunan sarana prasarana sebesar Rp 555.358.300,00 meliputi 8 desa, yaitu Desa Tajungan, Gili Barat, Banyuajuh, Kamal, Tanjung Jati, Kebun, Gili Timur, dan Pendabah. Alokasi dana untuk kegiatan SPP sebesar Rp 158.000.000,00 meliputi 4 desa, yaitu Desa Banyuajuh, Tanjung Jati, Gili Timur, dan Telang. Alokasi dana untuk kegiatan pendidikan sebesar Rp 236.643.600,00 meliputi dua Desa, yaitu Desa Telang dan Gili Anyar. Selain itu, dana juga dialokasikan untuk operasional TPK (3%) sebesar Rp 29.998.300,00 dan operasional UPK (2%) sebesar Rp 19.999.800,00. Realisasi penggunaan dana untuk kegiatan pembangunan sarana prasarana, SPP, pendidikan, operasional TPK (3%), dan operasional UPK (2%) masing-masing secara berurutan yakni, Rp 555.358.300,00 (100%); Rp 158.000.000,00 (100%);  Rp 236.643.600,00 (100%); Rp 29.998.300,00 (100%); dan  Rp 19.999.800,00 (100%). Realisasi penggunaan dana secara keseluruhan sebesar  Rp 1.000.000.000,00 dengan persentase sebesar 100%.

2. Penyaluran Dana BLM Tahun 2009

Dana BLM Tahun 2009 ini disalurkan  kepada 10 desa yang ada di Kecamatan Kamal sesuai dengan usulan kegiatan yang diajukan. Kegiatan tersebut meliputi kegiatan pembangunan sarana prasarana, SPP, dan pendidikan. Alokasi dana BLM Tahun 2009 untuk kegiatan pembangunan sarana prasarana sebesar Rp 670.569.900,00 meliputi 8 desa, yaitu Desa Tajungan, Gili Barat, Gili Anyar, Kamal, Telang, Kebun, Gili Timur, dan Pendabah. Alokasi dana untuk kegiatan SPP sebesar Rp 45.000.000,00 meliputi 4 desa, yaitu Gili Timur dan Telang. Alokasi dana untuk kegiatan pendidikan sebesar Rp 139.430.200,00 meliputi dua Desa, yaitu Desa Tanjung Jati dan Banyu Ajuh. Selain itu, dana juga dialokasikan untuk operasional TPK (3%) sebesar Rp 27.000.000,00 dan operasional UPK (2%) sebesar Rp 17.999.900,00. Realisasi penggunaan dana untuk kegiatan pembangunan sarana prasarana, SPP, pendidikan, operasional TPK (3%), dan operasional UPK (2%) masing-masing secara berurutan yakni,  Rp 670.569.900,00 (100%); Rp 45.000.000,00 (100%);  Rp 139.430.200,00 (100%); Rp 27.000.000,00 (100%); dan  Rp 17.999.900,00 (100%).Realisasi penggunaan dana secara keseluruhan sebesar Rp 900.000.000,00 dengan persentase sebesar 100 %.

3. Penyaluran Dana BLM Tahun 2010

Dana BLM Tahun 2010 ini disalurkan  kepada 10 desa yang ada di Kecamatan Kamal sesuai dengan usulan kegiatan yang diajukan. Kegiatan tersebut meliputi kegiatan pembangunan sarana prasarana, SPP, dan pendidikan. Alokasi dana BLM Tahun 2010 untuk kegiatan pembangunan sarana prasarana sebesar Rp 839.883.700,00 meliputi 8 desa, yaitu Desa Tajungan, Tanjung Jati, Gili Anyar, Kamal, Banyuajuh, Kebun, Gili Timur, dan Pendabah. Alokasi dana untuk kegiatan SPP sebesar Rp 158.000.000,00 meliputi 4 desa, yaitu Gili Timur, Banyuajuh, Tanjung Jati dan Telang. Alokasi dana untuk kegiatan pendidikan sebesar Rp 197.848.000,00 meliputi dua Desa, yaitu Desa Gili Barat dan Telang. Selain itu, dana juga dialokasikan untuk operasional TPK (3%) sebesar Rp 37.360.000,00 dan operasional UPK (2%) sebesar Rp 24.907.400,00. Realisasi penggunaan dana untuk kegiatan pembangunan sarana prasarana, SPP, pendidikan, operasional TPK (3%), dan operasional UPK (2%) masing-masing secara berurutan yakni, Rp 448.682.500,00 (53,42%); Rp 150.000.000,00 (100%);  Rp 113.021.000,00 (57,13%); Rp 22.504.400,00 (60,24%); dan  Rp 15.003.000,00 (60,24%).Realisasi penggunaan dana secara keseluruhan sebesar Rp 749.210.900,00 dengan persentase sebesar 59,94%.

4. Simpan Pinjam Perempuan (SPP)

a. Pencairan dan Perguliran SPP

Alokasi dana untuk kegiatan SPP BLM Tahun 2008 sebesar  Rp 158.000.000,00 meliputi 4 desa, yaitu Desa Banyuajuh, Tanjung Jati, Gili Timur, dan Telang. Pencairan SPP dari dana BLM tahun 2009 dilaksanakan 28 Desember 2009 sebesar Rp 45.000.000,00 meliputi 2 desa, yaitu Desa Gili Timur dan Telang. Perguliran I SPP dilaksanakan 16 dan 17 September 2009 sebesar   Rp 154.000.0000,00 meliputi 4 desa, yaitu Desa Banyuajuh, Tanjung Jati, Gili Timur, dan Telang. Perguliran II SPP dilaksanakan 19 Maret 2010 sebesar  Rp 115.000.000,00 meliputi 3 desa, yaitu Desa Tanjung Jati, Banyuajuh, dan Tajungan. Perguliran II SPP juga dilaksanakan 20 April 2010 Sebesar   Rp 26.000.000,00 untuk Kelompok Pengajian Hidayah Desa Banyuajuh dan juga dilaksanakan pada 21 Mei 2010 sebesar Rp 40.000.000,00 untuk Kelompok Anggrek sebesar Rp 20.000.000,00 serta Kelompok Amanah sebesar  Rp 20.000.000,00. Perguliran III SPP dilaksanakan 09 Agustus 2010 sebesar     Rp 71.000.000,00 yang terdiri dari Kelompok PKK RT 02 RW 03 Desa Tanjung Jati sebesar Rp 14.000.000,00, Kelompok PKK RW 08 Desa Banyuajuh sebesar Rp 12.000.000,00, Kelompok PKK RW 01 Desa Banyuajuh sebesar   Rp 12.000.000,00, dan Kelompok Pengajian Karang Anyar Desa Banyuajuh sebesar Rp 33.000.000,00. Pencairan SPP BLM 2010 Tahap I dilaksanakan 19 Agustus 2010 sebesar Rp 58.000.000,00 yang terdiri dari Kelompok PKK RT 02 RW 02 Desa Tanjung Jati sebesar Rp 10.000.000,00, Kelompok Pengajian RT 02 RW 02 Desa Tanjung Jati sebesar Rp 12.000.000,00, Kelompok Dawis Salak 02 Desa Tanjung Jati sebesar Rp 6.000.000,00, dan Kelompok Arisan Dusun Markas sebesar Rp 30.000.000,00. Pencairan SPP BLM 2010 Tahap II dilaksanakan 03 September 2010 sebesar Rp 92.000.000,00 yang terdiri dari Kelompok PKK RW 05 Desa Banyuajuh sebesar Rp 12.000.000,00, Kelompok PKK RW 06 Desa Banyuajuh sebesar Rp 20.000.000,00, Kelompok PKK RW 07 Desa Banyuajuh sebesar Rp 10.000.000,00, Kelompok PKK RW 09 Desa Banyuajuh sebesar  Rp 15.000.000,00 dan Kelompok Melati Desa Telang sebesar Rp 35.000.000,00. Perguliran III SPP juga dilaksanakan 07 September 2010 sebesar   Rp 60.000.000,00 yang terdiri dari Kelompok Mawar Desa Telang sebesar  Rp 30.000.000,00 dan Kelompok Pengajian Dusun Sumber Desa Gili Timur sebesar Rp 30.000.000,00.

b. Angsuran SPP (BLM Tahun 2008) dan Perguliran SPP

Angsuran pengembalian SPP BLM dan perguliran yang terdiri dari pinjaman pokok sebesar Rp 470.251.900,00 dan bunganya sebesar  Rp 84.615.000,00. Total pengembalian pinjaman pokok dan bunganya, yaitu sebesar Rp 554.866.900,00 dan saldo pinjaman SPP sebesar Rp 348.748.100,00. Tunggakan SPP dana BLM tahun 2009 yaitu Kelompok Arisan Dusun Labang Desa Gili Timur sebesar Rp 1.980.000,00 (pengembalian pinjaman pokok sebesar Rp 1.680.000,00 dan bunganya sebesar Rp 300.000,00). Tunggakan Perguliran I SPP Kelompok Pengajian Dusun Sumber Desa Tanjung Jati sebesar Rp 430.000,00 ( pengembalian pinjaman pokok sebesar Rp 430.000,00 dan bunganya sebesar Rp 0,00). Tunggakan Perguliran II SPP sebesar  Rp 5.900.000,00 yaitu Kelompok Hidayah Desa Tajungan selama dua bulan tunggakan angsuran (pengembalian pinjaman pokok sebesar Rp 2.500.000,00 dan bunganya sebesar Rp 450.000,00). Tunggakan Perguliran III SPP sebesar Rp 1.376.700,00 terdiri dari Kelompok PKK RT 02 RW 03 Desa Tanjung Jati (pengembalian pinjaman pokok sebesar Rp 1.166.700,00 dan bunganya sebesar Rp 210.000,00). Tunggakan BLM 2010 sebesar Rp 2.950.000,00 terdiri dari Kelompok Arisan Markas Desa Gili Timur (pengembalian pinjaman pokok sebesar Rp 2.500.000,00 dan bunganya sebesar Rp 450.000,00).

5. Surplus Berjalan dan Surplus Bertahan

Surplus berjalan pada bulan Oktober 2010 sebesar Rp 37.818.919,50 dan Surplus ditahan sampai dengan 2009 sebesar  Rp 21.391.974,1 .

6. Laporan Pencairan Dan Pencairan DOK

Kecamatan Kamal juga mendapatkan Dana Operasional Kegiatan (DOK) untuk perencanaan dan DOK untuk pelatihan masyarakat dalam mendukung lancarnya kegiatan PNPM-MP.

a. DOK Tahun 2008

Alokasi DOK Perencanaan sebesar Rp 73.600.000,00 dan DOK Pelatihan sebesar Rp 17.150.000,00. Penyerapan DOK Perencanaan sampai dengan bulan Oktober 2010 sebesar Rp 64.343.500,00 dan saldo bank ((Pencairan+Bunga) – (Penyerapan+Pajak+Administrasi)) sebesar Rp 6.317.765,71. Penyerapan DOK Pelatihan sampai dengan bulan Oktober 2010 sebesar Rp 14.933.000,00 dan saldo bank ((Pencairan+Bunga) – (Penyerapan+Pajak+Administrasi)) sebesar  Rp 2.452.581,38.

b. DOK Tahun 2009 dan DOK Tahun 2010

Rekening untuk Dana Operasional Kegiatan (DOK) Perencanaan dan DOK Pelatihan tahun 2009 dan Dana Operasional Kegiatan (DOK) Perencanaan dan DOK Pelatihan tahun 2010 digabung menjadi satu rekening. Alokasi Dana Operasional Kegiatan (DOK) Perencanaan tahun 2009 sebesar Rp 39.800.000,00 dan Dana Operasional Kegiatan (DOK) Perencanaan tahun 2010 sebesar Rp. 39.800.000,00 (100%) sedangkan DOK pelatihan tahun 2009 sebesar  Rp 17.025.000,00 dan DOK Pelatihan tahun 2010 sebesar Rp 18.525.000,00 (100%). Penyerapan DOK Perencanaan tahun 2009-2010 sampai dengan bulan Oktober 2010 sebesar Rp 66.410.000,00 dan saldo bank ((Pencairan+Bunga) – (Penyerapan+Pajak+Administrasi)) sebesar Rp 15.073.154,98. Penyerapan DOK Pelatihan tahun 2009 sampai dengan bulan Oktober 2010 sebesar Rp 28.134.000,00 dan saldo bank ((Pencairan+Bunga) – (Penyerapan+Pajak+Administrasi)) sebesar Rp 5.904.541,78.

Laporan Keuangan Bulan September Tahun 2010

Desember 16, 2010 Tinggalkan komentar

GAMBARAN UMUM PERMASALAHAN


Kecamatan Kamal merupakan salah satu kecamatan di kabupaten Bangkalan yang mendapatkan alokasi dana BLM PNPM Mandiri Perdesaan Tahun Anggaran 2008 dan Tahun Anggaran 2009. Alokasi BLM Tahun Anggaran 2008 untuk Kecamatan Kamal sebesar Rp. 1.000.000.000,- yang terdiri dari 20% (Rp 200.000.000,00) merupakan dana Cost Sharing APBD dan 80% (Rp 800.000.000,00) merupakan dana APBN pinjaman luar negeri. Sedangkan pada Tahun Anggaran 2009 alokasi BLM untuk Kecamatan Kamal turun dari    Rp 1.000.000.000,- menjadi Rp 900.000.000,- . Alokasi BLM Tahun Anggaran 2010 sebesar Rp 1.250.000.000,00.

1. Penyaluran Dana BLM Tahun 2008


Dana BLM Tahun 2008 ini disalurkan kepada 10 desa yang ada di Kecamatan Kamal sesuai dengan usulan kegiatan yang diajukan. Kegiatan tersebut meliputi kegiatan pembangunan sarana prasarana, SPP, dan pendidikan. Alokasi dana BLM Tahun 2008 untuk kegiatan pembangunan sarana prasarana sebesar Rp 555.358.300,00 meliputi 8 desa, yaitu Desa Tajungan, Gili Barat, Banyuajuh, Kamal, Tanjung Jati, Kebun, Gili Timur, dan Pendabah. Alokasi dana untuk kegiatan SPP sebesar Rp 158.000.000,00 meliputi 4 desa, yaitu Desa Banyuajuh, Tanjung Jati, Gili Timur, dan Telang. Alokasi dana untuk kegiatan pendidikan sebesar Rp 236.643.600,00 meliputi dua Desa, yaitu Desa Telang dan Gili Anyar. Selain itu, dana juga dialokasikan untuk operasional TPK (3%) sebesar Rp 29.998.300,00 dan operasional UPK (2%) sebesar Rp 19.999.800,00. Realisasi penggunaan dana untuk kegiatan pembangunan sarana prasarana, SPP, pendidikan, operasional TPK (3%), dan operasional UPK (2%) masing-masing secara berurutan yakni, Rp 555.358.300,00 (100%); Rp 158.000.000,00 (100%);  Rp 236.643.600,00 (100%); Rp 29.998.300,00 (100%); dan  Rp 19.999.800,00 (100%). Realisasi penggunaan dana secara keseluruhan sebesar  Rp 1.000.000.000,00 dengan persentase sebesar 100%.

2. Penyaluran Dana BLM Tahun 2009


Dana BLM Tahun 2009 ini disalurkan  kepada 10 desa yang ada di Kecamatan Kamal sesuai dengan usulan kegiatan yang diajukan. Kegiatan tersebut meliputi kegiatan pembangunan sarana prasarana, SPP, dan pendidikan. Alokasi dana BLM Tahun 2009 untuk kegiatan pembangunan sarana prasarana sebesar Rp 670.569.900,00 meliputi 8 desa, yaitu Desa Tajungan, Gili Barat, Gili Anyar, Kamal, Telang, Kebun, Gili Timur, dan Pendabah. Alokasi dana untuk kegiatan SPP sebesar Rp 45.000.000,00 meliputi 4 desa, yaitu Gili Timur dan Telang. Alokasi dana untuk kegiatan pendidikan sebesar Rp 139.430.200,00 meliputi dua Desa, yaitu Desa Tanjung Jati dan Banyu Ajuh. Selain itu, dana juga dialokasikan untuk operasional TPK (3%) sebesar Rp 27.000.000,00 dan operasional UPK (2%) sebesar Rp 17.999.900,00. Realisasi penggunaan dana untuk kegiatan pembangunan sarana prasarana, SPP, pendidikan, operasional TPK (3%), dan operasional UPK (2%) masing-masing secara berurutan yakni, Rp 670.569.900,00 (100%); Rp 45.000.000,00 (100%);  Rp 139.430.200,00 (100%); Rp 27.000.000,00 (100%); dan  Rp 17.999.900,00 (100%).Realisasi penggunaan dana secara keseluruhan sebesar Rp 900.000.000,00 dengan persentase sebesar 100 %.

3. Penyaluran Dana BLM Tahun 2010


Dana BLM Tahun 2010 ini disalurkan  kepada 10 desa yang ada di Kecamatan Kamal sesuai dengan usulan kegiatan yang diajukan. Kegiatan tersebut meliputi kegiatan pembangunan sarana prasarana, SPP, dan pendidikan. Alokasi dana BLM Tahun 2010 untuk kegiatan pembangunan sarana prasarana sebesar Rp 839.883.700,00 meliputi 8 desa, yaitu Desa Tajungan, Tanjung Jati, Gili Anyar, Kamal, Banyuajuh, Kebun, Gili Timur, dan Pendabah. Alokasi dana untuk kegiatan SPP sebesar Rp 158.000.000,00 meliputi 4 desa, yaitu Gili Timur, Banyuajuh, Tanjung Jati dan Telang. Alokasi dana untuk kegiatan pendidikan sebesar Rp 197.848.000,00 meliputi dua Desa, yaitu Desa Gili Barat dan Telang. Selain itu, dana juga dialokasikan untuk operasional TPK (3%) sebesar Rp 37.360.000,00 dan operasional UPK (2%) sebesar Rp 24.907.400,00. Realisasi penggunaan dana untuk kegiatan pembangunan sarana prasarana, SPP, pendidikan, operasional TPK (3%), dan operasional UPK (2%) masing-masing secara berurutan yakni, Rp 256.027.500,00 (30,48%); Rp 150.000.000,00 (100%);  Rp 68.436.700,00 (34,59%); Rp 14.994.200,00 (40,13%); dan  Rp 9.996.200,00 (40,13%).Realisasi penggunaan dana secara keseluruhan sebesar Rp 499.454.600,00 dengan persentase sebesar 39,96%.

4. Simpan Pinjam Perempuan (SPP)

a. Pencairan dan Perguliran SPP


Alokasi dana untuk kegiatan SPP BLM Tahun 2008 sebesar  Rp 158.000.000,00 meliputi 4 desa, yaitu Desa Banyuajuh, Tanjung Jati, Gili Timur, dan Telang. Pencairan SPP dari dana BLM tahun 2009 dilaksanakan 28 Desember 2009 sebesar Rp 45.000.000,00 meliputi 2 desa, yaitu Desa Gili Timur dan Telang. Perguliran I SPP dilaksanakan 16 dan 17 September 2009 sebesar  Rp 154.000.0000,00 meliputi 4 desa, yaitu Desa Banyuajuh, Tanjung Jati, Gili Timur, dan Telang. Perguliran II SPP dilaksanakan 19 Maret 2010 sebesar Rp 115.000.000,00 meliputi 3 desa, yaitu Desa Tanjung Jati, Banyuajuh, dan Tajungan. Perguliran II SPP juga dilaksanakan 20 April 2010 Sebesar  Rp 26.000.000,00 untuk Kelompok Pengajian Hidayah Desa Banyuajuh dan juga dilaksanakan pada 21 Mei 2010 sebesar Rp 40.000.000,00 untuk Kelompok Anggrek sebesar Rp 20.000.000,00 serta Kelompok Amanah sebesar Rp 20.000.000,00. Perguliran III SPP dilaksanakan 09 Agustus 2010 sebesar     Rp 71.000.000,00 yang terdiri dari Kelompok PKK RT 02 RW 03 Desa Tanjung Jati sebesar Rp 14.000.000,00, Kelompok PKK RW 08 Desa Banyuajuh sebesar Rp 12.000.000,00, Kelompok PKK RW 01 Desa Banyuajuh sebesar  Rp 12.000.000,00, dan Kelompok Pengajian Karang Anyar Desa Banyuajuh sebesar Rp 33.000.000,00. Pencairan SPP BLM 2010 Tahap I dilaksanakan 19 Agustus 2010 sebesar Rp 58.000.000,00 yang terdiri dari Kelompok PKK RT 02 RW 02 Desa Tanjung Jati sebesar Rp 10.000.000,00, Kelompok Pengajian RT 02 RW 02 Desa Tanjung Jati sebesar Rp 12.000.000,00, Kelompok Dawis Salak 02 Desa Tanjung Jati sebesar Rp 6.000.000,00, dan Kelompok Arisan Dusun Markas sebesar Rp 30.000.000,00. Pencairan SPP BLM 2010 Tahap II dilaksanakan 03 September 2010 sebesar Rp 92.000.000,00 yang terdiri dari Kelompok PKK RW 05 Desa Banyuajuh sebesar Rp 12.000.000,00, Kelompok PKK RW 06 Desa Banyuajuh sebesar Rp 20.000.000,00, Kelompok PKK RW 07 Desa Banyuajuh sebesar Rp 10.000.000,00, Kelompok PKK RW 09 Desa Banyuajuh sebesar      Rp 15.000.000,00 dan Kelompok Melati Desa Telang sebesar Rp 35.000.000,00. Perguliran III SPP juga dilaksanakan 07 September 2010 sebesar  Rp 60.000.000,00 yang terdiri dari Kelompok Mawar Desa Telang sebesar  Rp 30.000.000,00 dan Kelompok Pengajian Dusun Sumber Desa Gili Timur sebesar Rp 30.000.000,00.

b. Angsuran SPP (BLM Tahun 2008) dan Perguliran SPP


Angsuran SPP sudah berlangsung 12 kali angsuran atau lunas, 11 (kali) kali angsuran (Perguliran I SPP), 8 kali angsuran SPP dana BLM tahun 2009, lima atau empat (yang pernah dipending) atau tiga (yang pernah dipending) kali angsuran (Perguliran II SPP), satu atau nol kali angsuran (Perguliran III) dengan pengembalian pinjaman pokok sebesar Rp 420.726.400,00 dan bunganya sebesar Rp 75.945.000,00. Total pengembalian pinjaman pokok dan bunganya, yaitu sebesar Rp 496.671.400,00 dan saldo pinjaman SPP sebesar Rp 398.273.600,00. Tunggakan SPP dana BLM tahun 2009 sebesar  Rp 4.439.000,00 yaitu Kelompok Arisan Dusun Labang Desa Gili Timur sebesar Rp 1.980.000,00 (pengembalian pinjaman pokok sebesar Rp 1.680.000,00 dan bunganya sebesar Rp 300.000,00) dan Kelompok Teratai Desa Telang sebesar Rp 2.459.000,00 (pengembalian pinjaman pokok sebesar Rp 2.084.000,00 dan bunganya sebesar Rp 375.000,00). Tunggakan Perguliran I SPP sebesar Rp 13.220.000,00 terdiri dari Kelompok Kamboja Desa Telang selama 2 kali sebesar Rp 5.980.000,00 (pengembalian pinjaman pokok sebesar Rp 5.080.000,00 dan bunganya sebesar Rp 900.000,00), Kelompok Kenanga Desa Telang selama 2 kali sebesar Rp 4.720.000,00 (pengembalian pinjaman pokok sebesar Rp 4.000.000,00 dan bunganya sebesar Rp 720.000,00) dan Kelompok Pengajian Nangkek Desa Gili Timur sebesar Rp 2.090.000,00 (pengembalian pinjaman pokok sebesar Rp 1.760.000,00 dan bunganya sebesar Rp 330.000,00) dan Kelompok Pengajian Dusun Sumber Desa Tanjung Jati sebesar Rp 430.000,00 ( pengembalian pinjaman pokok sebesar Rp 430.000,00 dan bunganya sebesar Rp 0,00). Tunggakan Perguliran II SPP sebesar Rp 2.950.000,00 terdiri dari Kelompok Hidayah Desa Tajungan (pengembalian pinjaman pokok sebesar Rp 2.500.000,00 dan bunganya sebesar Rp 450.000,00). Tunggakan Perguliran III SPP sebesar Rp 1.376.700,00 terdiri dari Kelompok PKK RT 02 RW 03 Desa Tanjung Jati (pengembalian pinjaman pokok sebesar Rp 1.166.700,00 dan bunganya sebesar Rp 210.000,00). Tunggakan BLM 2010 sebesar Rp 2.950.000,00 terdiri dari Kelompok Arisan Markas Desa Gili Timur (pengembalian pinjaman pokok sebesar Rp 2.500.000,00 dan bunganya sebesar Rp 450.000,00).

5. Surplus Berjalan dan Surplus Bertahan


Surplus berjalan pada bulan September 2010 sebesar Rp 29.111.068,80 dan Surplus ditahan sampai dengan 2009 sebesar  Rp 21.391.974,1 .

6. Laporan Pencairan Dan Pencairan DOK


Kecamatan Kamal juga mendapatkan Dana Operasional Kegiatan (DOK) untuk perencanaan dan DOK untuk pelatihan masyarakat dalam mendukung lancarnya kegiatan PNPM-MP.

a. DOK Tahun 2008

Alokasi DOK Perencanaan sebesar Rp 73.600.000,00 dan DOK Pelatihan sebesar Rp 17.150.000,00. Penyerapan DOK Perencanaan sampai dengan bulan September 2010 sebesar Rp 64.343.500,00 dan saldo bank ((Pencairan+Bunga) – (Penyerapan+Pajak+Administrasi)) sebesar Rp 6.306.010,32. Penyerapan DOK Pelatihan sampai dengan bulan September 2010 sebesar Rp 14.933.000,00 dan saldo bank ((Pencairan+Bunga) – (Penyerapan+Pajak+Administrasi)) sebesar  Rp 2.449.542,79.

b. DOK Tahun 2009 dan DOK Tahun 2010

Rekening untuk Dana Operasional Kegiatan (DOK) Perencanaan dan DOK Pelatihan tahun 2009 dan Dana Operasional Kegiatan (DOK) Perencanaan dan DOK Pelatihan tahun 2010 digabung menjadi satu rekening. Alokasi Dana Operasional Kegiatan (DOK) Perencanaan tahun 2009 sebesar Rp 39.800.000,00 dan Dana Operasional Kegiatan (DOK) Perencanaan tahun 2010 sebesar  Rp. 39.800.000,00 (100%) sedangkan DOK pelatihan tahun 2009 sebesar  Rp 17.025.000,00 dan DOK Pelatihan tahun 2010 sebesar Rp 18.525.000,00 (100%). Penyerapan DOK Perencanaan tahun 2009-2010 sampai dengan bulan September 2010 sebesar Rp 66.410.000,00 dan saldo bank ((Pencairan+Bunga) – (Penyerapan+Pajak+Administrasi)) sebesar Rp 15.048.442,35. Penyerapan DOK Pelatihan tahun 2009 sampai dengan bulan September 2010 sebesar   Rp 28.134.000,00 dan saldo bank ((Pencairan+Bunga) – (Penyerapan+Pajak+Administrasi)) sebesar Rp 5.893.718,19.