Arsip

Archive for September, 2010

PERAN KEPALA DESA & BPD Dalam Pelestarian Hasil PNPM Mandiri Perdesaan

September 8, 2010 Tinggalkan komentar

Dalam pelestarian hasil PNPM Mandiri Perdesaan Kepala Desa dan BPD perlu menetapkan peraturan desa yang mengatur tentang perlindungan aset-aset program PNPM MP dan upaya pelestariannya.

PENGERTIAN PERATURAN DESA

Adalah ketentuan atau produk hukum yang disusun dan ditetapkan secara bersama-sama oleh Pemerintah Desa dan BPD sebagai pedoman dan bersifat mengikat semua pihak dalam lingkup wilayah desa.

MANFAAT PERATURAN DESA

  1. Sebagai pedoman kerja bagi semua pihak dalam penyelenggaraan kegiatan di desa
  2. Terciptanya tatanan kehidupan yang serasi, selaras dan seimbang di desa
  3. Memudahkan pencapaian tujuan
  4. Sebagai acuan dalam rangka pengendalian dan pengawasan
  5. Sebagai dasar .pengenaan sanksi atau hukuman
  6. Mengurangi kemungkinan terjadinya penyimpangan atau kesalahan

JENIS-JENIS PERATURAN DESA

Jenis dan ragam Peraturan Desa yang disusun dan ditetapkan bergantung pada kebutuhan penyelenggara pemerintahan di desa. Untuk itu diharapkan kepada Pemerintah Desa dan BPD agar dapat mengidentifikasi topik-topik yang perlu dibuat sebagai Peraturan Desa. Tingkat kepentingan ini hendaknya dilihat dalam kerangka kepentingan sebagian besar masyarakat agar Peraturan Desa yang dibuat benar-benar aspiratif.

Peraturan Desa juga perlu dibuat karena adanya perintah atau keharusan yang ditetapkan melalui peraturan yang lebih tinggi. Peraturan Desa seperti ini biasanya merupakan penjabaran dan pengukuhan dari peraturan yang lebih tinggi tersebut.

PROSES PENYUSUNAN PERATURAN DESA YANG ASPIRATIF

  1. Identifikasi topik Peraturan Desa oleh Pemerintah Desa atau BPD
  2. Susun kerangka umum Peraturan Desa
  3. Diskusikan kerangka Global dengan masyarakat yang terkait dan berkepentingan.
  4. Buatlah Rancangan Peraturan Desa dengan memperhatikan masukan-masukan dari pihak-pihak terkait.
  5. Pembahasan Bersama oleh BPD dan Pemerintah Desa.
  6. Lakukan Publik Hearing/ Dengan pendapat bersama masyarakat
  7. Revisi dan Finalisasi Peraturan Desa dengan memperhatikan hasil publik hearing oleh Pemerintah Desa dan BPD.

KAIDAH HUKUM PENYUSUNAN PERATURAN DESA

  1. Harus disusun oleh Pemerintah Desa/ Kepala Desa dengan BPD.
  2. Harus sesuai prosedur standar.
  3. Tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi.
  4. Diterima secara wajar dan sesuai kondisi sosial budaya masyarakat.

Dalam era Otonomi Daerah saat ini, desa diberikan kewenangan yang lebih luas dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya. Dalam rangka ini, sejumlah Peraturan Desa perlu dibuat untuk mengefektifkan implementasi dari kewenangan tersebut. Sampai saat ini belum ada ketentuan yang menjelaskan secara terperinci tentang ragam Peraturan Desa yang perlu dibuat. Berikut ini beberapa usulan tentang aspek-aspek yang perlu diatur melalui Peraturan Desa:

1. Bidang Pemerintahan Desa

1)   Struktur organisasi dan tata kerja Pemerintah Desa.

2)   Struktur organisasi BPD.

3)   Tata tertib BPD.

4)   Kerjasama antar desa dan kerjasama dengan pihak ketiga.

5)   Pemekaran, penggabungan dan penghapusan desa.

6)   Batas desa.

7)   Lambang desa dan motto desa.

  1. 1. Bidang Keuangan

1)   Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa.

2)   Mekanisme pengelolaan keuangan desa.

3)   Sumber-sumber pendapatan desa.

4)   Pungutan-pungutan desa seperti pajak dan retribusi desa (misal: retribusi jalan desa.

5)   Pungutan biaya administrasi/kompensasi atas

6)   Pelayanan administrasi di desa.

7)   Sumbangan dari pihak ketiga.

8)   Pinjaman desa.

2. Bidang Pembangunan

1)   Rencana Pembangunan Tahunan Desa.

2)   Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa.

3)   Tata Ruang dan Peruntukan Lahan.

3. Kelembagaan Desa

1)   Pembentukan dan penghapusan lembaga desa.

2)   Struktur organisasi dan tata kerja lembaga desa.

4. Lain-lain

1)   Perdes tentang ternak lepas.

2)   Perdes tentang pengelolaan sistim irigasi.

3)   Perdes tentang sistim keamanan lingkungan.

4)   dan lain-lain.

Referensi:

PP No. 72 tahun 2005 Tentang Desa

PERAN KEPALA DESA & BPD Dalam Pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan

September 8, 2010 2 komentar

uploaded by hafis.muaddab@gmail.com

Kepala Desa

Peran Kepala Desa adalah sebagai pembina dan pengendali kelancaran serta Keberhasilan pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan di desa. Bersama BPD, kepala desa menyusun peraturan desa yang relevan dan mendukung terjadinya proses pelembagaan prinsip dan prosedur PNPM Mandiri Perdesaan sebagai pola pembangunan partisipatif, serta pengembangan dan pelestarian asset PNPM Mandiri Perdesaan yang telah ada di desa. Kepala desa juga berperan mewakili desanya dalam pembentukan badan atau forum kerjasama antar desa.

Tugas dan Tanggungjawab Kepala Desa :

  1. Membantu dalam memasyarakatkan tujuan, prinsip dan kebijakan PNPM Mandiri Perdesaan kepada masyarakat di wilayahnya.
  2. Mewakili desanya dalam urusan kerjasama antar desa di dalam Musyawarah Antar Desa
  3. Menjamin kelancaran pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan didesanya, sehingga pelaku-pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di desa dapat melaksanakan peran dan fungsinya dengan baik sesuai ketentuan yang berlaku
  4. Membantu dan mendorong terlaksanannya proses penggalian gagagsan di kelompok masyarakat dan dusun, musyawarah  desa  serta tahapan pelaksanaan lainnya di tingkat desa
  5. Turut menyelesaikan perselisihan dan permasalahan yang terjadi dalam masyarakat berkaitan dengan pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan
  6. Memeriksa setiap laporan dan laporan penyelesaian akhir kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan baik Fisik, Administrasi dan Keuangan
  7. Menandatangani dokumen-dokumen yang diperlukan seperti : Surat Perjanjian Pemberian Bantuan (SPPB), Surat Kesanggupan Menyelesaiakan Pekerjaan (SKMP), dan Surat Pernyataan Peneyelesaian Pelaksanaan Kegiatan (SP3K)

Badan Permusyawaratan Desa (BPD)

Dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan, BPD atau dengan sebutan lainnya berperan sebagai lembaga yang mengawasi proses dari setiap tahapan PNPM Mandiri Perdesaan, mulai dari sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan dan pelestarian di desa. Selain itu juga berperan dalam melegalisasi atau mengesahkan peraturan desa yang berkaitan dengan pelembagaan dan pelestarian PNPM Mandiri Perdesaan di desa.

Tugas dan Tanggungjawab Badan Permusyawaratan Desa :

  1. Membantu dan memasyarakatkan tujuan, prinsip dan kebijakan PNPM Mandiri Perdesaan kepada masyarakat desa
  2. Memberi pengawasan secara langsung maupun tidak langsung terhadap pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan di wilayahnya
  3. Menyusun peraturan-peraturan desa (perdes) yang mendukung pelestarian manajemen pembagunan partisipatif dan hasil kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan di wilayahnya
  4. Memberi saran-saran perbaikan pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan di forum-forum resmi di desa atau di kecamatan
  5. Memastikan adanya keterpaduan dan mencegah terjadinya tumpang tindih proyek atau kegiatan dari berbagai sumber pendanaan yang ada di desa
  6. Membangun kerjasama yang sinergis dengan kepala desa dalam rangka mensukseskan keberhasilan PNPM Mandiri Perdesaan

Sejarah Desa Tanjung Jati

September 8, 2010 Tinggalkan komentar

Desa ini berada disebelah timur Desa Kamal, dengan pemandangan yang unik pembongkaran dan bahkan pemotongan kapal. Konon dahulu desa Tanjung Jati menurut para sesepuh desa tersebut banyak sekali ditumbuhi oleh pohon jati, selanjutnya menurut salah satu tokoh desa itu  pohon jati tersebut selalu banyak sekali, juga kualitas pohonnya sangat baik bahkan disebutkan pohon jati yang ada di wilayah Bangkalan asalnya mengambil bibitnya dari desa tersebut.

Pada saat itu para nelayan mengambil pohon jati yang sudah besar-besar untuk dijadikan perahu. Dan desa tersebut secara geografis berada di pantai / selat Madura.

Sehingga apabila orang jawa pergi ke madura khususnya ke bangkalan harus berlabuh di desa tersebut. Selanjutnya desa itu disebut desa Tanjung Jati.

Sejarah Desa Pendabah

September 8, 2010 Tinggalkan komentar

uploaded by hafis.muaddab@gmail.com

Pada suatu ketika ada seorang yang bertapa di sebuah gua yang terletak dipuncak bukit. Orang menyebut gua itu dengan sebutan  “Pendapan”     ( bahasa madura ) kemudian nama itu lama-kelamaan bergeser menjadi nama sebuah desa yaitu “Pendabah”.

Menurut sebagian sesepuh desa, desa Pendabah diceritakan bahwa desa Pendabah tempat jatuhnya pecahan kapalnya Dampu Awang ketika bertarung dengan Jokotole. Dan tempat jatuhnya pecahan kapal tersebut disebut “Pendapan” hingga sekarang pecahan kapal Dampu Awang itu masih ada namun berubah wujud menjadi bongkahan batu, dan bila batu itu dipukul atu dilempar biasanya ada bunyi memantul ( Neeeeng), sekarang batu itu diberi nama “batu cenning” dan menjadi aset wisata bagi desa Pendabah.

Kategori:Sejarah

Sejarah Desa Telang

September 8, 2010 Tinggalkan komentar

uploaded by hafis.muaddab@gmail.com

Dahulu kala ada seorang ratu di daerah Bangkalan mempunyai dua orang putri Kakak beradik, kakaknya ditakdirkan cantik, sedang adiknya ditakdirkan mata kanannya     buta.  Pada suatu hari ratu tersebut  mengadakan sayembara membuat gapura besar di wilayah kamal, barangsiapa yang dapat membuat gapura itu dengan waktu yang telah ditentukan oleh si ratu tersebut akan mendapatkan putrinya yang cantik itu.

Cerita tersebut tersebar di seluruh pelosok madura dan pada suatu saat terdengar oleh seorang pemuda yang kaya raya, tetapi pemuda itu tidak mempunyai kesaktian. Karena pemuda itu ingin mendapatkan putrinya ratu yang cantik mempunyai akal untuk mencari seorang yang sakti mandraguna untuk dimanfaatkan/diperalat, untuk membangun gapura yang disayembarakan. Selanjutnya pemuda kaya raya itu terus-menerus mencari seorang sakti mandraguna, dan suatu hari pemuda kaya itu bertemu dengan seorang yang sakti yang bernama Jokotole.

Selanjutnya Jokotole dimanfaatkan untuk membangun gapura tersebut. dan setelah gapura selesai dibuatnya seorang pemuda kaya itu pergi ke baginda ratu, dan mengaku dia yang membangun gapura itu. Sehingga mendapatkan putrinya yang cantik, sedangkan putrinya yang buta matanya sebelah oleh pemuda kaya itu diberikan ke Jokotole dan Jokotole dengan ikhlas menerima adiknya yang buta, dibawalah oleh Jokotole ke tanah jawa. Dan suatu hari Jokotole sampai pada suatu tempat di perbatasan antara dua desa, karena kehausan Jokotole menancapkan tongkatnya ke tanah dan keluarlah air dari dalam tanah dan mengenai mata putri yang buta sebelah. Tanpa diduga mata putri yang buta tersebut menjadi sembuh dapat melihat, selanjutnya karena hilangnya penyakit itu maka kejadian di tempat itu disebut “ TELANG ‘’ ( Telah Hilang Penyakitnya ) dan sumber air itu disebut  “SOCAH” yang sekarang menjadi nama kecamatan Socah.

Sejarah Desa Tajungan

September 8, 2010 Tinggalkan komentar

uploaded by hafis.muaddab@gmail.com

Asal-usul nama desa Tajungan menurut tokoh masyarakat yang bernama bapak Mundafar, mengatakan bahwa desa Tajungan merupakan Tanjung yang tenggelam, hal ini disebabkan pada saat air pasang  desa tersebut tenggelam sampai-sampai daratannya tidak kelihatan.

Peta Desa Tajungan

Selanjutnya Pak Mundafar menjelaskan secara rinci, konon dahulu ada seorang pemuda nelayan dari gresik, saat air pasang nelayan itu mencari ikan diwilayah tersebut dan kebetulan wilayah itu banyak sekali ikannya, sehingga pemuda nelayan itu berlama-lama menjaring ikan di tempat itu, tak terasa air mulai surut dengan tidak disangka perahunya kandas di dataran (pantai) tersebut, tidak lama kemudian ada seorang sedang mencari kerang di pantai itu, saat itu hari mulai sore,pemuda nelayan itu berhasrat cepat pulang, ternyata nelayan itu mengalami kesulitan untuk mendorong perahunya ke laut, sehingga pemuda nelayan itu minta bantuan kebapak pencari kerang, selanjutnya pencari kerang itu menghanpirinya membatu mendorong perahu pemuda tersebut.

Selanjutnya hubungan kekeluargaan antara pemuda dengan orang tersebut terus-menerus dibina dengan baik, sehingga untuk menambah persaudaraan,pemuda tadi menikah dengan anak perempuannya. Setelah pemuda tersebut berkelurga memutuskan untuk tinggal di tanjung tenggelam tersebut.

Tanjung Tenggalam itu segera diuruk atau ditambahkan tanah bedel dari desa lainnya sampai menutup atau menjadi daratan, sehingga desa itu diberi nama desa Tajungan dan perlu diketahui desa tersebut luasnya sekitar 7 ha saja.

Sejarah Desa Gili Barat

September 8, 2010 1 komentar

Uploaded by hafis.muaddab@gmail.com

Asal-usul nama Gili Barat, merupakan suatu rentetan sejarah yang sama dengan Gili Timur dan Gili Anyar, hal ini disebabkan oleh pelaku sejarah yang sama, yaitu masing-masing pelaku itu merupakan tiga saudara yang sama-sama melakukan suatu pertapaan disuatu tempat dikenal di Dusun Sumber ( wilayah Gili Timur ).

Salah satu dari ketiga saudara tersebut tinggal disebelah barat Gili Anyar yang dikenal dengan nama Buju Bendo ( Tarhes ), pada saat itu Gili Barat kekurangan air untuk mengaliri sawah-sawah di desa tersebut, sehingga Buju Bendo mempunyai inisiatif  membuat kali yang tadinya cuma sampai di Gili Anyar, dengan kesaktiannya Buju Bendo menarik tongkatnya dari kali Gili Anyar ke barat  tidak lama kemudian air mengalir dari Gili Anyar ke barat, tetepi airnya yang mengalir sedikit sekali, sehingga Buju Bendo menancapkan tongkatnya dan dengan derasnya air keluar dari tanah dan air tersebut dialirkan keseluruh sawah-sawah yang ada di desa sebelah baratnya Gili Anyar, selanjutnya masyarakat pada saat itu menyebut desa tersebut dengan nama Gili Barat, jelas kepala desa Gili Timur ( Bapak Moch Cholil )

Kategori:Sejarah
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.